Tampilkan postingan dengan label IMM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IMM. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Agustus 2017

Indonesia Merdeka


72 Tahun Indonesia Merdeka. Tujuh puluh dua tahun yang lalu Indonesia telah mampu merebut kemerdekaan dari berbagai pihak penjajah. Indonesia telah dijajah oleh berbagai bangsa mulai Inggris, Protugis, Belanda dan Jepang. hingga sampailah semangat yang membara dari para pemuda Indonesia untuk segera memerdekakan Indonesia di tanggal 17 Agustus 1945. langkah itu ditempuh dengan berbagai rintangan. Namun, meski Indonesia telah dinyatakan merdeka. Akan tetapi, Indonesia sejatinya belum merdeka dari kemiskinan dan keterbelakangan. Masih banyak kaum mustadh'afin yang harus ditolong dan dipikirkan oleh pemerintah dan masyarakat yang berpunya. Oleh karena itu, peran kaum pemuda terutama mahasiswa harus terlihat nyata untuk merubah Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik. sebab tugas mahasiswa selain sebagai pelajar di bangku kuliah, ia juga sebagai agen of control, agen of change, dan tugas-tugas yang lainnya. maka mahasiswa dikenal dengan kaum idealis. 

Kamis, 03 November 2016

IMM

IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH
www.imm.or.id


MELACAK JEJAK SEJARAH

KELAHIRAN IMM tidak lepas kaitannya dengan sejarah perjalanan Muhammadiyah,   dan juga bisa  dianggap sejalan dengan faktor kelahiran Muhammadiyah itu sendiri. Hal ini berarti bahwa setiap hal yang dilakukan Muhammadiyah merupakan perwujudan dari keinginan Muhammadiyah untuk  memenuhi cita-cita sesuai dengan kehendak Muhammadiyah dilahirkan.
 Di samping itu, kelahiran IMM juga merupakan respond atas persoalan-persoalan keummatan dalam sejarah bangsa ini pada awal kelahiran IMM, sehingga kehadiran IMM sebenarnya merupakan sebuah keharusan sejarah. Faktor-faktor problematis dalam persoalan keummatan itu antara lainialah sebagai berikut (Farid Fathoni, 1990: 102):
1. Situasi kehidupan bangsa yang tidak stabil, pemerintahan yang otoriter dan serba tunggal,   serta adanya ancaman komunisme di Indonesia.
2. Terpecah-belahnya umat Islam datam bentuk  saling curiga dan fitnah, serta kehidupan politikummat Islam yang semakin buruk.
3.Terbingkai-bingkainya kehidupan kampus (mahasiswa) yang berorientasi pada kepentingan politik praktis
4.Melemahnya kehidupan beragama dalam bentuk merosotnya akhlak, dan semakin tumbuhnya materialisme-individualisme
5.Sedikitnya pembinaan dan pendidikan agama  dalam kampus, serta masih kuatnya suasana kehidupan kampus yang sekuler
6.Masih membekasnya ketertindasan imperialisme penjajahan dalam bentuk keterbelakangan, kebodohan, dan kemiskinan
7.Masih banyaknya praktek-praktek kehidupan yang serba bid'ah, khurafat, bahkan kesyi rikan, serta semakin meningkatnya misionaris- Kristenisasi
8. Kehidupan ekonomi, sosial, dan politik yang semakin memburuk
Dengan latar belakang tersebut, sesungguhnya semangat untuk mewadahi dan membina   mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah telah  dimulai sejak lama. Semangat tersebut sebenarnya  telah tumbuh dengan adanya keinginan untuk mendirikan perguruan tinggi Muhammadiyah pada Kongres Seperempat Abad Muhammadiyah di Betawi  Jakarta pada tahun 1936. Pada saat itu, Pimpinan  Pusat Muhammadiyah diketuai oleh KH. Hisyam (periode 1934-1937). Keinginan tersebut sangat logis dan realistis, karena keluarga besar  Muhammadiyah semakin banyak dengan putera-puterinya yang sedang dalam penyelesaian pendidikan menengahnya. Di samping itu,Muhammadiyah juga sudah banyak memiliki amal usaba pendidikan tingkat menengah.
  Gagasan pembinaan kader di lingkungan  mahasiswa datam bentuk penghimpunan dan pembinaan langsung adatah selaras dengan kehendak  pendiri Muhammadiyah, KHA. Dahlan, yang berpesan  babwa "dari kallan nanti akan ada yang jadi dokter, meester, insinyur, tetapi kembalilah kepada   Muhammadiyah" (Suara Muhammadiyah, nomor 6  tahun ke-68, Maret || 1988, halaman 19). Dengan   demikian, sejak awal Muhammadiyah sudah  memikirkan bahwa kader-kader muda yang profesional harus memiliki dasar keislaman yang tangguh dengan kembali ke Muhammadiyah.
  Namun demikian, gagasan untuk menghimpun dan membina mahasiswa di lingkungan  Muhammadiyah cenderung terabaikan, tantaran  Muhammadiyah sendiri belum memiliki perguruan   tinggi. Belum mendesaknya pembentukan wadah kader di lingkungan mahasiswa Muhammadiyah  saat itu juga karena saat itu jumlah mahasiswa yang ada di lingkungan Muhammadiyah betum terialu banyak. Dengan demikian, pembinaan kadermahasiswa Muhammadiyah dilakukan melalui wadah Pemuda Muhammadiyah (1932) untuk mahasiswa putera dan metalui Nasyiatul Aisyiyah  (1931) untuk mahasiswa puteri.
Pada Muktamar Muhammadiyah ke-31 pada  tahun 1950 di Yogyakarta, dihembuskan kembali keinginan untuk mendirikan perguruan tinggi Muhammadiyah. Namun karena berbagai macam hat, keinginan tersebut belum bisa diwujudkan,sehingga gagasan untuk dapat secara langsung membina dan menghimpun para mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah tidak berhasil Dengan demikian, keinginan untuk membentuk wadah bagi mahasiswa Muhammadiyah juga masih jauh dari kenyataan.
Pada Muktamar Muhammadiyah ke-33 tahun 1956 di Palembang, gagasan pendirian perguruan tinggi Muhammadiyah baru bisa direalisasikan. Namun gagasan untuk mewadahi mahasiswa Muhammadiyah dalam satu himpunan belum bias diwujudkan. Untuk mewadahi pembinaan terhadap mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah, maka Muhammadiyah membentuk Badan Pendidikan Kader (BPK) yang dalam menjalankan aktivitasnya bekerja sama dengan Pemuda Muhammadiyah.
Gagasan untuk mewadahi mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah dalam satu himpunan setidaknya telah menjadi polemik di lingkungan Muhammadiyah sejak lama. Perdebatan seputar kelahiran Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah  berlangsung cukup sengit, baik di kalangan Muhammadiyah sendiri maupun di kalangan gerakan mahasiswa yang lain. Setidaknya, kelahiran IMM sebagai wadah bagi mahasiswa Muhammadiyah mendapatkan resistensi, baik dari kalangan Muhammadiyah sendiri maupun dari kalangan gerakan mahasiswa yang lain, terutama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Di kalangan Muhammadiyah sendiri pada awal munculnya gagasan pendirian IMM terdapat anggapan bahwa IMM betum dibutuhkan kehadirannya dalam Muhammadiyah, karena Pemuda Muhammadiyah dan Nasyi'atul Aisyiyah masih dianggap cukup mampu untuk mewadahi mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah.
Di samping itu, resistensi terhadap ide kelahiran IMM pada awalnya juga disebabkan adanya hubungan dekat yang tidak kentara antara Muhammadiyah dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Hubungan dekat itu dapat ditihat ketika Lafran Pane mau menjajagi pendirian HMI. Dia bertukar pikiran dengan Prof. Abdul Kahar Mudzakir (tokob Muhammadiyah), dan beliau setuju. Pendiri HMI yang lain ialah Maisarah Hilal (cucu KHA. Dahlan) yang juga seorang aktifis di Nasyi'atul Aisyiyah.
Bila asumsi itu benar adanya, maka hubungan dekat itu selanjutnya sangat mempengaruhi perjalanan IMM, karena dengan demikian Muhammadiyah saat itu beranggapan bahwa pembinaan dan pengkaderan  mahasiswa Muhammadiyah bisa dititipkan metalui HMI (Farid Fathoni, 1990: 94). Pengaruh hubungan dekat tersebut sangat besar bagi kelahiran IMM. Hal ini bisa dilihat dari perdebatan tentang kelahiran IMM. Pimpinan Muhammadiyah di tingkat lokal seringkali menganggap bahwa kelahiran IMM saat itu tidak diperlukan, karena sudah terwadahi dalam Pemuda Muhammadiyah dan Nasyi'atulAisyiyah, serta HMI yang sudah cukup eksis (dan mempunyai pandangan ideologis yang sama). Pimpinan Muhammadiyah pada saat itu lebih menganak- emaskan HMI daripada IMM. Hal ini terlihat jelas dengan banyaknya pimpinan Muhammadiyah, baik secara pribadi maupun kelembagaan, yang memberikan dukungan pada aktivitas HMI. Di kalangan Pemuda Muhammadiyah juga terjadi perdebatan yang cukup sengit seputar kelahiran IMM. Perdebatan seputar kelahiran IMM tersebut cukup beralasan, karena sebagian pimpinan (baik di Muhammadiyah, Pemuda Muhammadiyah, Nasyi'atul Aisyiyah, serta amal-amal usaha Muhammadiyah) adalah kader-kader yang dibesarkan di HMI.
 Setelah mengalami polemik yang cukup serius tentang gagasan untuk mendirikan IMM, maka pada tahun 1956 polemik tersebut mulai mengalami pengendapan. Tahun 1956 bisa disebut sebagai tahap awal bagi embrio operasional pendirian IMM dalam bentuk pemenuhan gagasan penghimpun wadah mahasiswa di lingkungan Muhammadiyah (Farid Fathoni, 1990: 98). Pertama, pada tahun itu (1956) Muhammadiyah secara formal membentuk kader terlembaga (yaitu BPK). Kedua, Muhammadiyah pada tahun itu telah bertekad untuk kembali pada identitasnya sebagai gerakan Islam dakwah amar ma'ruf nahi munkar (tiga tahun sesudahnya, 1959, dikukuhkan dengan melepaskan diri dari komitmen politik dengan Masyumi, yang berarti bahwa Muhammadiyah tidak harus mengakui bahwa satu-satunya organisasi mahasiswa Islam di Indonesia adalah HMI). Ketiga, perguruan tinggi Muhammadiyah telah banyak didirikan. Keempat, keputusan Muktamar Muhammadiyah bersamaan Pemuda Muhammadiyah tahun 1956 di Palembang tentang "....menghimpun pelajar dan mahasiswa Muhammadiyah agar kelak menjadi pemuda Muhammadiyah atau warga Muhammadiyah yang mampu mengembangkan amanah."
 Baru pada tahun 1961 (menjelang Muktamar Muhammadiyah Setengah Abad di Jakarta) iselenggarakan Kongres Mahasiswa Universitas Muhammadiyah di Yogyakarta (saat itu, Muhammadiyah sudah mempunyai perguruan tinggi Muhammadiyah sebelas buah yang tersebar di berbagai kota). Pada saat itulah, gagasan untuk mendirikan IMM digulirkan sekuat-kuatnya. Keinginan tersebut ternyata tidak hanya dari mahasiswa Universitas Muhammadiyah, tetapi juga dari kalangan mahasiswa di berbagai universitas non-Muhammadiyah. Keinginan kuat tersebut tercermin dari tindakan para tokoh Pemuda Muhammadiyah untuk melepaskan Departemen Kemahasiswaan di lingkungan Pemuda Muhammadiyah untuk berdiri sendiri. Oleh karena itu, lahirlah Lembaga Dakwah Muhammadiyah yang dikoordinasikan oleh Margono (UGM, Ir.), Sudibyo Markus (UGM, dr.), Rosyad Saleh (IAIN, Drs.), sedangkan ide pembentukannya dari Djazman al-Kindi (UGM, Drs.).
   Tahun 1963 dilakukan penjajagan untuk mendirikan wadah mahasiswa Muhammadiyah secara resmi oleh Lembaga Dakwah Muhammadiyah dengan disponsori oleh Djasman al-Kindi yang saat itu menjabat sebagai Sekretaris Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah. Dengan demikian, Lembaga Dakwah Muhammadiyah (yang banyak dimotori oleh para mahasiswa Yogyakarta) inilah yang menjadi embrio lahirnya IMM dengan terbentuknya IMM Lokal Yogyakarta.
   Tiga butan setelah penjajagan, Pimpinan Pusat Muhammadiyah mere,smikan berdirinya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah pada tanggal 29 Syawal 1384 H. atau 14 Maret 1964 M. Penandatanganan Piagam Pendirian Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dilakukan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah saat itu, yaitu KHA. Badawi. Resepsi peresmian IMM dilaksanakan di Gedung Dinoto Yogyakarta dengan penandatanganan 'Enam Penegasan IMM' oleh KHA. Badawi, yaitu:
1. Menegaskan bahwa IMM adalah gerakan  mahasiswa Islam
2. Menegaskan bahwa Kepribadian Muhammadiyah  adalah landasan perjuangan IMM
3. Menegaskan bahwa fungsi IMM adalah eksponen mahesiswa dalam Muhammadiyah
4. Menegaskan bahwa IMM adalah organisasi mahasiswa yang sah dengan mengindahkan segala hukum, undang-undartg, peraturan,  serta dasar dan falsafah negara
5. Menegaskan bahwa ilmu adalá amaliah dan  amal adalah ilmiah
6. Menegaskan bahwa amal WJA aMah lillahi  ta'ala dan senantiasa diabdWan untuk kepentingan rakyat.

  Tujuan akhir kehadiran Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah untuk pertama kalinya ialah membentuk  akademisi Islam datam rangka metaksanakan tujuan Muhammadiyah. Sedangkan aktifitas IMM pada awal kehadirannya yang paling menonjol ialah kegiatan keagamaan dan pengkaderan, sehingga seringkali IMM pada awal kelahirannya disebut sebagai Kelompok Pengajian Mahasiswa Yogya (Farid Fathoni, 1990: 102).
 Adapun maksud didirikannya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah antara lain adatah sebagai berikut:
1. Turut memelihara martabat dan membela  kejayaan bangsa
2. Menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam
3.Sebagai upaya menopang, melangsungkan, dan meneruskan cita-cita pendirian Muhammadiyah
4. Sebagai pelopor, pelangsung, dan penyempurna  amal usaha Muhammadiyah
5. Membina, meningkatkan, dan memadukan iman dan ilmu serta amal dalam kehidupan bangsa, ummat, dan persyarikatan
 Dengan berdirinya IMM lokal Yogyakarta, maka berdiri pulalah IMM lokal di beberapa kota lain di Indonesia, seperti Bandung, Jember, Surakarta, Jakarta, Medan, Padang, Tuban, Sukabumi, Banjarmasin, dan lain-lain. Dengan demikian, mengingat semakin besarnya arus perkembangan IMM di hampir seluruh kota-kota universitas, maka dipandang perlu untuk meningkatkan IMM dari organisasi di tingkat lokal menjadi organisasi yang berskala nasional dan mempunyai struktur vertikal.
 Atas prakarsa Pimpinan IMM Yogyakarta, maka bersamaan dengan Musyawarah IMM se-Daerah Yogyakarta pada tanggal 11-13 Desember 1964 diselenggarakan Musyawarah Nasional Pendahuluan IMM seluruh Indonesia yang dihadiri oleh hamper seluruh Pimpinan IMM Lokal dari berbagai kota. Musyawarah Nasional tersebut bertujuan untuk mempersiapkan kemungkinan diselenggarakannya Musyawarah Nasional Pertama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah pada bulan April atau Mei 1965. Musyawarah Nasional Pendahuluan tersebut menyepakati penunjukan Pimpinan IMMYogyakarta sebagai Dewan Pimpinan Pusat Sementara IMM (dengan Djazman al-Kindi sebagai Ketua dan Rosyad Saleh sebagai Sekretaris) sampai diselenggarakannya Musyawarah Nasional Pertama di Solo.
Dalam Musyawarah Pendahuluan tersebut juga disahkan asas IMM yang tersusun dalam 'Enam Penegasan IMM', Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga IMM, Gerak Arah IMM, serta berbagai konsep lainnya, termasuk lambang IMM, rancangan kerja, bentuk kegiatan, dan lain-lain.

PRINSIP DASAR ORGANISASI

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah adalah gerakan mahasiswa Islam yang bergerak di bidang keagamaan, kemasyarakatan, dan kemahasiswaan. Tujuan IMM adatah mengusahakan terbentuknyaakademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah.
Dalam mencapai tujuan tersebut, Ikatan  Mahasiswa Muhammadiyah melakukan beberapa  upaya strategis sebagai berikut :
1.   Membina para anggota menjadi kader persyarikatan Muhammadiyah, kader umat,
 dan kader bangsa, yang senantiasa setia  terhadap keyakinan dan cita-citanya.
2.Membina para anggotanya untuk selalu tertib  dalam ibadah, tekun dalam studi, dan  mengamalkan ilmu pengetahuannya untuk  melaksanakan ketaqwaannya dan pengab diannya kepada allah SWT.
3.Membantu para anggota khusus dan mahasiswa pada umumnya dalam menyelesaikan kepentingannya.
4. Mempergiat, mengefektifkan dan menggembirakan dakwah Islam dan dakwah amar ma'ruf nahi munkar kepada masyarakat khususnya masyarakat mahasiswa.
5. Segala usaha yang tidak menyalahi azas, gerakan dan tujuan organisasi dengan mengindahkan segala hukum yang berlaku dalam Republik Indonesia.

JARINGAN STRUKTURAL IMM
Susunan organisasi IMM dibuat   secara  berjenjang dari tingkat Dewan Pimpinan Pusat, Dewan Pimpinan Daerah, Pimpinan Cabang, dan  Komisariat. Dewan Pimpinan Pusat adatah tingkat  pimpinan tertinggi di IMM yang menjangkau ruang lingkup nasional. Dewan Pimpinan Daerah adatah pimpinan organisasi yang menjangkau suatu kesatuan wilayah tertentu yang terdiri dari cabang-cabang IMM. Pimpinan Cabang adalah pimpinan organisasi yang menjangkau satu kesatuan komisariat IMM. Komisariat IMM adatah kesatuan anggota-anggota IMM dalam sebuah perguruan tinggi atau kelompok tertentu. Saat ini, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah telah menjangkau seluruh wilayah Indonesia.

PROGRAM KERJA
Secara umum program kerja IMM dilaksanakan untuk memantapkan eksistensi organisasi demi  mencapai tujuannya, "mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah" (AD IMM Pasal 6). Untuk menunjang pencapaian tujuan IMM tersebut, maka perencanaan dan pelaksanaan  program kerja diorientasikan bagi terbentuknya  profil kader IMM yang memiliki kompetensi dasar  aqidah, kompetensi dasar intelektual, dan  kompetensi dasar humanitas. Sebagai organisasi yang      bergerak       di     bidang      keagamaan,  kemasyarakatan, dan kemahasiswaan, maka  program kerja IMM pada dasarnya tidak bisa lepas  dari tiga bidang garapan tersebut. Perencanaan dan  pelaksanaan program kerja tersebut memiliki  stressing yang berbeda-beda (berurutan dan saling  menunjang) pada masing-masing level  kepemimpinan.
 *     Di tingkat Komisariat: kemahasiswaan, perkaderan,keorganisasian,kemasyarakatan.
 *     Di tingkat Cabang: Perkaderan, kemahasiswaan, keorganisasian, kemasyarakatan.
 *     Di tingkat Daerah: keorganisasian, kemasyarakatan, perkaderan, kemahasiswaan.
 *     Di tingkat Pusat: Kemasyarakatan, keorganisasian, perkaderan, kemahasiswaan.
 Berkaitan dengan program kerja jangka panjang, maka sasaran utamanya diarahkan pada upaya perumusan visi dan peran sosial politik IMM memasuki abad XXI. Hal ini tidak lepas dari ikhtiar  untuk memantapkan eksistensi IMM demi tercapainya tujuan organisasi (lihat AD IMM Pasal 6). Sasaran utama dan program jangka panjang ini  merujuk pada dan melanjutkan prioritas program yang telah diputuskan pada Muktamar Vll IMM di  Purwokerto (1992). Program dimaksud menetapkan  strategi pembinaan dan pengembangan organisasi  secara bertahap, sistematis, dan berkelanjutan  selama Lima periode Muktamar IMM.
 Periode Muktamar IX diarahkan pada  pemantapan konsolidasi internal (organisasi,  pimpinan, dan program) dengan meningkatkan  upaya pembangunan kualitas institusional dan  pemantapan mekanisme kaderisasi dalam  menghadapi perkembangan situasi sosial politik  nasional yang semakin dinamis. Periode Muktamar  X diarahkan pada penguatan orientasi kekaderan  dengan meningkatkan mutu sumber daya kader  sebagai penopang utama kekuatan organisasi  datam transformasi sosial masyarakat. Periode  Muktamar XI diarahkan pada penguatan peran  institusi organisasi baik secara internal (pelopor,  pelangsung, dan penyempurna gerakan pembaruan dan amal usaha Muhammadiyah) maupun eksternal  (kader umat dan kader bangsa).
  Periode Muktamar XII diarahkan pada pemantapan peran IMM dalam wilayah kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara memasuki era globalisasi yang lebih luas. Periode Muktamar XIll diarahkan pada pemberdayaan institusi organisasi serta pemantapan peranan IMM dalam kehidupan sosial politik bangsa.
Kemudian pelaksanaan program jangka panjang itu memiliki sasaran khusus pada masing-masing bidangnya. Bidang Organisasi diarahkan pada terciptanya struktur dan fungsi organisasi serta mekanisme kepemimpinan yang mantap dan mendukung gerak IMM dalam mencapai tujuannya. Program konsolidasi gerakan IMM juga diarahkan bagi terciptanya kekuatan gerak IMM baik ke datam maupun ke luar sebagai modal penggerak bagi pengembangan gerakan IMM.
Bidang Kaderisasi diarahkan pada penguatan tiga kompetensi dasar kader IMM (aqidah, intelektual, dan humanitas) yang secara dinamis mampu menempatkan diri sebagai agen pelaku perubahan sosial bagi kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara. Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi diarahkan pada pembangunan budaya iptek dan penguatan paradigma ilmu yang melandasi setiap agenda dan aksi gerakan IMMdalam menyikapi tantangan zaman.
       Bidang Hikmah diarahkan pada penguatan peran sosial politik IMM di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya dalam peran serta dan partisipasi sosial politik generasi muda (mahasiswa). Bidang Sosial Ekonomi diarahkan pada penumbuhkembangan budaya dan wawasan wiraswasta di lingkungan IMM, terutama dalam membangun dan memberdayakan potensi ekonomi kerakyatan. Bidang Immawati diarahkan pada upaya penguatan jati diri dan peran aktif sumber daya kader puteri IMM dalam transformasi social menuju masyarakat utama.


Sumber: http://www.muhammadiyah.or.id/id/content-87-det-imm.html

Senin, 14 Maret 2016

Di Bulan Ramadhan pun Masjid juga Sepi



Di Bulan Ramadhan pun Masjid juga Sepi
By: Putri Nur Jannah (PK Averoes)

Mungkin disini kalian bertanya-tanya mengapa saya mengambil sebuah judul masjid vs pasar. Apa tidak ada judul yang lebih baik dari ini. Taukah anda bulan ramadhan merupakan bulan yang sangat mulia. Banyak manusia yang menantikan kedatangannya. Sebab telah kita ketahui bersama bahwa bulan ini membawa banyak berkah, banyak keutamaan-keutamaan yang tiada terkira. Amalan-amalan yang kita lakukan pun akan dilipatgandakan  tidak seperti pada bulan-bulan yang lainnya.
Fenomena yang sering kita lihat dimasyarakat yaitu bila memasuki bulan ramadhan mereka membicarakan nanti aku akan sholat terawih di masjid ini dan itu. Mempersipkan baju dan mukenah serta sajadah untuk sholat terawih. Puasa hari pertama saat mendengarkan adzan berbuka, langsung meneguk air setelah itu pergi ke masjid. Jika tidak langsung melaksanakan sholat maghrib. Kemudian makan makanan berbuka yang telah dipersiapkan. Tidak berlama-lama dalam berbuka, langsung menuju ke masjid untuk sholat terawih.
Hari pertama puasa dan hari kedua sholat terawih. Subhanallah shaf begitu banyak telat lima menit saja sudah tidak mendapatkan shof terdepan. Sungguh bulan ramadha telah menarik umat manusia untuk keluar dari rumahnya melakukan sholat berjamaah di masjid. Tapi, akankah inu berjalan lama. Akankah hari-hari selanjutnya seperti itu. Masjid akan semakin ramai dengan banyaknya para jamaah sholat terawih dan para tadarus Al-qur'an. Ataukah justru semakin menyusut shaf-shaf sholat.
A.    Masjid
Masjid adalah tempat yang digunakan oleh umat islam dalam melakukan kegiatan beribadah kepada Allah SWT. Mulai dari melakukan sholat berjamaah, mengaji Al-qur'an dan kegiatan yang lainnya. Masjid juga merupakan salah satu sarana untuk menjalin sebuah silaturahim antara umat islam. Mulai yang kecil hingga dewasa, mulai yang kaya sampai yang miskin semuanya dipersatukan dalam satu masjid. Tidak ada perbedaan diantara mereka.
Tempat yang paling disukai Allah di dunia adalah masjid dan tempat yang paling Dia benci adalah pasar. Ini dijelaskan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjid dan tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar-pasar.” (HR. Muslim)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):
إِنَّمَا يَعۡمُرُ مَسَـٰجِدَ ٱللَّهِ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأَخِرِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّڪَوٰةَ وَلَمۡ يَخۡشَ إِلَّا ٱللَّهَ‌ۖ فَعَسَىٰٓ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ أَن يَكُونُواْ مِنَ ٱلۡمُهۡتَدِينَ (١٨(
“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At-Taubah: 18)
Memakmurkan masjid menjadi ciri dan hak bagi orang beriman. Mereka adalah orang-orang pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Adapun makna “memakmurkan masjid” ini adalah membangun dan mendirikan masjid, mengisi dan menghidupkannya dengan berbagai ibadah dan ketaatan kepada Allah Ta’ala, menghormati dan memeliharanya dengan cara membersihkannya dari kotoran-kotoran dan sampah serta memberinya wewangian.
Dengan kata lain semua bentuk ketaatan apapun yang dilakukan di dalam masjid atau terkait dengan masjid maka hal itu termasuk bentuk memakmurkannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan kabar gembira kepada orang yang terpaut hatinya pada masjid,
“Tujuh golongan yang Allah akan menaungi mereka pada suatu hari (hari kiamat) yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; (diantaranya) Seorang penguasa yang adil, pemuda yang dibesarkan dalam ketaatan kepada Rabbnya, seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid, ….” (Muttafaqun alaihi)
Akan tetapi fenomena dalam masyarakat masjid ramai hanya saat awal-awal bulan ramadhan saja. Sepuluh hari terakhir bulan ramadhan pun mulai terlihat masyarakat meninggalkan shaf-shaf sholatnya. Mereka mulai malas menginjakkan kakinya di rumah Allah. Tempat yang paling dicintai oleh Allah. Banyak manusia yang enggan menginjakkan kakinya ke masjid. Justru mereka lebih senang mengunjungi tempat selain masjid. Padahal cukup datang ke masjid, lalu sholat dan membaca Al-qur'an tanpa mengelarkan sepeser rupiahpun tak mau. Padahal jika kita ke tempat lain bisa saja membutuhkan banyak biaya, uang 50 ribu tak akan cukup.
B.     Pasar
Pasar adalah tempat bertemunya antara penjual dan pembeli. Tempat dimana terjadinya nilai tukar menukar antara uang dan barang ataukah sebaliknya. Dalam zaman yang semakin maju, pasar tidak hanya saja pasar tradisional tapi juga pasar modern seperti mall. Banyak manfaat yang bisa kita dapatkan di pasar. Tapi juga ada beberapa kemadharatan di dalam pasar. Mengomentari hadits tersebut Imam Nawawi berkata “karena pasar adalah tempat penipuan, kebohongan, riba, sumpah palsu, ingkar janji dan berpaling dari dzikrullah (mengingat Allah) dan lain sebagainya.”
Pasar merupakan tempat yang melalaikan. Lalai terhadap pekerjaan yang telah menanti, lalai untuk segera pulang dan makin parahnya yaitu lalai dalam mengingat Allah. Lihat saja saat adzan berkumandang. Suara adzan dikalahkan dengan hiruk pikuk suasana pasar. Mereka tidak bersegera pergi ke masjid untuk menunaikan sholat melainkan tetap duduk ditempatnya untuk melayani pembeli. Begitupun dengan pembeli tidak bersegera ke masjid tapi tetap saja melanjutkan aktifitasnya memilih baju. Baju baru untuk sholat idul fitri. Padahal tidak ada perintah untuk memakai baju baru saat lebaran.
Justru yang diminta yaitu memakai pakaian yang baik. Disini baik bukan berarti harus baru. Yang setiap tahunnya saat lebaran membelinya. Al-Haifz Ibnu Jarir rahimahullah berkata, "Diriwayatkan dari Ibnu Abu Dunya dan Baihaqi dengan sanad shahih sampai ke Umar, bahwa beliau memakai baju yang terbaik pada dua hari raya (idul fitri dan idul adha)." Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, "Disunnahkan bagi laki-laki pada hari raya untuk berhias dan memakai pakaian yang terbaik." (Majmu Fatawa Wa Rosail Ibnu Utsaimin, 13/2461)
Dijelaskan pula bahwa manusia dilarang untuk berlama-lama di dalam pasar. Sesuai dengan perkataan, Salman al-Farisi berkata, “Jika engkau bisa, jangan sekali-kali menjadi orang yang pertama kali masuk pasar dan paling akhir keluar darinya. Karena di situlah medan pertempuran dengan setan, dan di sana setan menancapkan benderanya.” (atsar riwayat Muslim)
Allah Subhanahu wa Ta’ala membenci pasar, maka sudah sepantasnyalah seorang mukmin juga membencinya, dia membenci apa yang dibenci Rabbnya.
Dalam hal ini kita tidak dilarang untuk mengunjungi pasar. Akan tetapi yang tidak diperbolehkan yaitu jika melalaikan melakukan ibadah kepada Allah. Karena di pasar juga merupakan tempat untuk mencari nafkah bagi penjual dan tempat untuk mencari kebutuhan bagi para pembeli. Akan tetapi sebagai muslim dan muslimah janganlah kita bersenang jika berlama-lama di dalam pasar. Sebab didalamnya tidaklah menimbulkan keuntungan. Cukup waktu seperlunya saja untuk berlama disana sesuai dengan kebutuhan. Jika telah selesai lekas untuk meninggalkan pasar dan kembali ke rumah atau ketempat yang disenangi oleh Allah.
C.     Amalan di Masjid di terakhir bulan ramadhan
  1. Lebih giat dan bersungguh-sungguh dalam melakukan ibadah.
Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga senantiasa meningkatakan amalan ibadahnya di 10 hari terakhir pada bulan Ramadhan. Hal ini dan sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ.
“Pada 10 hari terakhir (di bulan Ramadhan) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih bersungguh-sungguh (dalam beribadah) melebihi hari-hari yang lainnya.” (HR. Muslim no. 1175)
  1. Menghidupkan malam-malamnya dengan memperbanyak ibadah.
Di awal-awal Ramadhan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya menyertai ibadah shalat dan puasanya dengan tidur, namun jika telah masuk pada 10 hari terakhir maka beliau pun mengurangi kapasitas tidurnya. Dan beliau memanfaatkan malam-malamnya untuk beribadah kepada Allah.
Di dalam musnad Imam Ahmad rahimahullah terdapat hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang menyebutkan bahwa:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْلِطُ الْعِشْرِينَ بِصَلَاةٍ وصَوْمٍ وَنَوْمٍ، فَإِذَا كَانَ الْعَشْرُ شَمَّرَ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ.
 “Pada 20 hari yang pertama (di bulan Ramadhan) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengkombinasikan antara shalat, puasa dan tidurnya. Namun jika telah masuk pada 10 hari yang terakhir beliau bersungguh-sungguh dan mengencangkan sarungnya (menjauhi istri-istrinya).” (HR. Ahmad [6/68, 146])
  1. Membangunkan anggota keluarga.
Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga senantiasa membangunkan keluarganya untuk shalat, memperbanyak dzikir dan bersungguh-sungguh dalam mengamalkan malam-malam bulan Ramadhan yang penuh barakah ini.
Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha disebutkan bahwa:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ.
 “Jika telah datang 10 hari yang terakhir (di bulan Ramadhan) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengencangkan sarungnya, menghidupkan malam-malamnya (dengan beribadah), dan beliau juga membangunkan keluarganya (untuk beribadah).” (HR. al-Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174)
Pada 10 hari yang terakhir merupakan kesempatan emas bagi setiap muslim untuk memperoleh pahala dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Maka dari itu kita harus bersungguh-sungguh dalam beribadah di dalamnya, karena kita tidak akan pernah tahu apakah kita masih bisa bertemu lagi dengan bulan Ramadhan yang akan datang atau tidak.

  1. Beri’tikaf
I’tikaf adalah menetap di dalam masjid dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak melakukan ketaatan dan ibadah kepada Allah. Dan hal ini merupakan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disebutkan di dalam al-Quran dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ
 “Janganlah kamu campuri mereka (istri-istrimu) itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid.” (QS. al-Baqarah [2]: 187)
Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha disebutkan bahwa:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ
 “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu beri’tikaf di 10 hari yang terakhir dari bulan Ramadhan hingga Allah Ta’ala mewafatkannya. Kemudian setelah beliau wafat, istri-istri beliau juga senantiasa beri’tikaf.” (HR. al-Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172)
  1. Besungguh-sungguh dalam meraih malam lailatul qadar.
Pada penghujung bulan Ramadhan, tepatnya di 10 (sepuluh) malam yang terakhir terdapat lailatul qadar, yaitu suatu malam yang penuh kemuliaan dan keberkahan yang mana pahala ibadah seorang hamba akan dilipat gandakan. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa lailatul qadaritu lebih baik dari seribu bulan.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ، وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ، لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
 “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Quran) pada malam kemuliaan, Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”(QS. al-Qadr [97]: 1-3)
Maka dari itu, setiap muslim hendaknya bersungguh-sungguh untuk bisa mendapatkan lailatul qadar, terutama di 10 malam terakhir pada bulan Ramadhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
 “Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. al-Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 1169, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha)
D.    Perilaku Konsumtif semakin meningkat
Dalam bulan ramadhan seharusnya kebutuhan konsumsi semakin menurun, akan tetapi kenyataannya justru semakin banyak pengeluaran untuk makanan, beli baju baru dan sebagainya. Jika saat berbuka tidak makan es janggelan, es campur dan makanan yang lainnya itu terasa tidak special. Apalagi jika telah mendekati lebaran kurang terasa jika tidak memasak ketupat, opor ayam, kue kering dan minuman yang menyegarkan. Tak ketinggalan pula membeli baju baru, sepatu baru dan aksesoris baru untuk menunjang penampilan menjadi semacam prasyarat. Yang ditakutkan jika nanti bertemu sanak keluarga dan teman tidak mengenakan baju baru bisa menjadi sebuah gunjingan. Ini bukan hanya dilakukan oleh satu orang melainkan banyak orang. Sudah menjadi kewajiban saat lebaran untuk melakukan beli sana beli sini.
Dengan banyaknya permintaan apakah persediaan barang juga mencukupi? Itulah menjadi permasalahan semakin banyaknya peminat dan barang yang diminati kurang banyak dipasaran. Hal inilah yang menjadikan harga barang semakin mahal. Akan tetapi ramadhan selalu disambut dengan belanja besar-besaran.
      Swalayan dan mall mengadakan promo besar-besaran menjelang ramadhan dan menjelang lebaran. Baju baru discount 50% bahkan hingga 70%. Padahal jika dihitung-hitung sama saja halnya dengan bulan-bulan sebelum ramadhan dan sesudahnya. Hanya berbeda yang ini dapat discount besar-besaran yang biasanya hanya discount 10% saja.
E.     Lebih memilih yang mengeluarkan uang dari pada yang tidak
Fenomena sekarang masnyarakat justru lebih senang mengeluarkan uangnya untuk beli barang-barang yang hanya digunakan untuk saat lebaran saja. Tapi malas untuk melakukan suatu amalan yang itu benar-benar mendapatkan pahala yang luar biasa. Mereka lebih senang pergi ke pasar, Pasar lebih padat dan ramai sampai-sampai ketika lewat badanpun tersa tidak mau berpindah dari tempatnya. Bukannya betah tapi macet.
Seseorang jika diminta untuk membaca Al-Qur’an ketika telah selesai sholat terawih mereka beralasan ngantuk, capek dan alasan yang lainnya. Tapi jika pergi kepasar lima jampun tak akan terasa membosankan dan melelahkan. Sepuluh hari terakhir bulan ramadhan sangat ironis sekali melihat pemandangan di dalam masjid. Shaf-shaf sholat terawih hanya tinggal 5 shaf. Yang pada hari-hari sebelumnya, pertama kali sholat terawih tempat sholat sesak dengan jamaah. Tapi menginjak sepuluh hari terakhir sepi dan yang tertinggal hanyalah segelintir orang saja.

F.      Referensi

1.      http://www.muadz.com/amalan-di-10-hari-terakhir-bulan-ramadhan/

2.      http://alfathonah.blogspot.com/2012/08/akhir-ramadhan-antara-masjid-dan-pasar_15.html

3. http://www.kompasiana.com/ratihnoko/mengenal-lebaran-effect_54f6b251a33311495d8b460b

 


PERKADERAN JANTUNG IKATAN



PERKADERAN JANTUNG IKATAN
Oleh: Putri Nur Jannah (Kabid Kader PK. IMM Averoes UMSIDA)
Disusun sebagai syarat kepesertaan Latihan Instruktur Dasar PC. IMM Sidoarjo

Latar Belakang
Kader (prancis: cadre) berarti elite, ialah bagian yang terpilih, yang terbaik karena terlatih, berarti jantung suatu organisasi. Kalau kader lemah maka suatu organisasi tidak bisa bekembang dan berjalan, maka seluruh elemen organisasi itu lemah juga. Sedangkan jika kader itu kuat maka seluruh elemen dalam organisasi itu kuat. Kader merupakan suatu inti dari suatu resimen. Daya juang resimen ini sangat tergantung dari niali kadernya, yang merupakan tulang punggung, pusat semangat dan avant-gardennya. Maka jelaskah bahwa hanya orang-orang yang bermutu itulah, yang terpilih dan pengalaman dalam medan pertempuran, yang taat dan berinisiatif yang dapat disebut kader.
Kader disebut quadrum yang berarti empat persegi panjang atau kerangka. Dengan demikian kader dapat didefinisikan sebagai kelompok manusia yang terbaik karena terpilih yaitu merupakan inti dan tulang punggung (kerangka) dari kelompok yang lebih besar dan terorganisir secara permanen.
Sistem perkaderan diartikan seperangkat unsur dari keseluruhan komponen yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas yang berhubungan dengan kader dan kaderisasi. sebagai sebuah sistem, unsur-unsur yang terkandung dalam sistem perkaderan yaitu tujuan perkaderan, arah perkaderan, profil kader, jenis dan bentuk perkaderan, struktur perkaderan, kurikulum perkaderan, dan pengorganisasian perkaderan.
Perkaderan tidaklah dimulai pada saat sekarang saja. Dahulunya Rasulullah juga melakukan sebuah perkaderan untuk melanjutkan perjuangan dakwahnya dalam menyebarkan agama Islam. Begitu pula pada organisasi Islam terbesar yakni Muhammadiyah. Sebagai rangka melanjutkan estafet kepemimpinan diperlukan sebuah proses kaderisasi. Dan tak tertinggal pula salah satu organisasi otonom Muhammadiyah yakni IMM juga melakukan rekruitmen atau pencarian kader sebagai penerus pengemban amanah dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan berfastabiqul khairat. \
Kaderisai menurut islam diartikan sebagai usaha mempersiapkan calon-calon pemimpin hari esok yang tangguh dalam mempertahankan dan mengembangkan identitas khoiruh ummah, umat terbaik. Ini sesuai dengan seruang Allah dalam QS. Al-Imran: 110. Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.
Dalam artikel ini akan dijelaskan sistem perkaderan pada masa Rasulullah, sistem perkaderan yang ada di Muhammadiyah, sistem perkaderan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dan korelasi antara ketiga sistem perkaderan tersebut. Bahwa ada garis merah antara tiga sistem perkaderan tersebut.

Sistem Perkaderan Rasulullah
Dalam melakukan kaderisasi Rasulullah tidak sembanrangan. Beliau melakukan apa yang ia katakan kepada kadernya. Sehingga kadernya menjadi taat dan melaksanakan apa yang beliau serukan.[1] Kunci sukses kaderisasi juga Allah ingatkan dalam al-qur’an surat ash-Shaff ayat 2-3 yang artinya (2) Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (3) Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.
Darul Arqam, sebuah rumah di wilayah mekah milik salah seorang sahabat yang menjadi temapat Rasulullah saw mengkader para sahabatnya sebelum peristiwa hijrah ke Madinah. Ditempat itu selama 13 rahun Rasulullah mencetak generasi yang menjadi penyokong-penyokong utama menegakkan dahwah nubuwah.
Stategi yang digunakan Rasulullah dalam mendidik mereka adalah melalui keteladanan. Rasulullah tidak hanya menyampaikan, akan tetapi mempratikkan ajarannya secara langsung kepada mereka.
Sasaran kaderisasi Rasulullah yaitu orang terdekatnya seperti para sahabatnya yakni Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin al-Khattab dan para sahabat yang lainnya.  Adapun muatan yang digunakan dalam proses awal kaderisasi yakni penanam aqidah Islam secara menyeluruh dan mendalam. Secara garis besar Rasulullah melakukan pembinaan dan pengajaran periode Makkah yaitu pendidikan tauhid dalam teori dan praktek serta pendidikan al-Qur’an. Sedangkan pembinaan dan pengajaran di Madinah yaitu pembentukan dan pembinaan  masyarakat baru menuju satu kesatuan sosiopolitik, Pendidikan politik dan kewarganegaraan.

Sistem Perkaderan Muhammadiyah
Perkaderan dalam Muhammadiyah lahir seiring dengan proses pembinaan calon anggota dan anggota Muhammadiyah untuk menghasilkan tenaga-tenaga inti penerus misi dan gerakan Muhammadiyah yang dilaksanakan melalui berbagai upaya serta media, baik langsung maupun tidak langsung.[2] Perkaderan semacam ini dimulai saat kepemimpinan KH. Ahmad Dahlan dan pemimpin-pemimimpin Muhammadiyah selanjutnya dengan cara dan metode yang berbeda, namun semangat yang dikandungnya yang sama.
Perkembangan Muhammadiyah yang begitu pesat dengan banyaknya amal usaha yang dimiliki. Itu semua tidaklah dapat dipisahkan dari kegiatan kaderisasi dan pendidikan kader. Muhammdiyah lahir, terus berkembanga, begitu pula program pendidikan atau pembinaan kader menjadi program yang diutamakan dengan metode-metode dan sistem pengajian, latihan, pendidikan formal (pembinaan kader, kaderisasi, perkaderan) merupakan tuntutan yang tidak dapat dilepaskan dari keberadaan serta perkembangan Muhammadiyah. Bahwasannya pada masa mendatang jauh lebih menuntut penanganan yang serius, terprogram secara baik dan strategis.[3] 
Kaderisasi dalam Muhammadiyah menjadi kebutuhan yang utama disebabkan perkembangan yang dihadarpi Muhammadiyah, potensi dan kebesarannya, masalah-masalah yang dihadapi, dan tantangan besar yang menantang di depannya sedemikian kompleks dan sarat kedinamisan. Maka lebih menjadi kebutuhan lagi, bila diproyeksikan ke masa depan Muhammadiyah, yang jelas-jelas membutuhkan persiapan generasi yang tanggung dalam segalanya. Perhatian, motivasi serta partisipasi kepada Muhammadiyah didasarkan atas rasa ketertarikan moral Islami dan ukhuwah Islamiyah, tentu positif. Namun jika ketertarikan dilihat sebagai fasilitas sosial, ekonomi, politik, maka perlu diseleksi.
Karya-karya filosofis yang sebagai jawaban kekaburan serta pergeseran nilai di dalam kehidupan Muhammadiyah yang merujuk kepada nilai-nilai Islam dan jiwa gerak Muhammadiyah. Sedangkan di fihak lain sebagai upaya pemagaran terhadap pengaruh-pengaruh luar secara filosofis dengan tidak meremehkannya. Karya itu adalah Muqaddimah Angggaran Dasar Muhammadiyah. Demikian kelahiran rumusan Khittah perjuangan Muhammadiyah, juga rumusan kepribadian, Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah. [4]
Untuk menjawab itu semua diperlukan sebuah pendekatan filosofis. Uregensi pendekatan filosofis dikaitakan pada Muhammadiyah dalam kedudukannya Gerakan Islam, Gerakan Tajdid, Gerakan Dakwah secara sebenar-benarnya. Dengan pendekatan filosofis tersebut maka akan dapat difahami peta permasalahan yang secara mendasar maupun menyeluruh. Dengan pendekatan folosofis dapat diupayakan langkah penanaman ideologis dalam bentuk pembinanaan nilai-nilai Islam dan perilaku kepemimpinan serta perilaku bermuhammadiyah bagi segenap anggota Muhammadiyah secara terprogram.
Hakekat kader muhammadiyah bersifat tunggal, yang terkontrol dalam tema ”Hanya Satu Kader Muhammadiyah”. Sedangkan fungsi tugasnya bersifat ke dalam dan ke luar, yakni sebagai kader persyarikatan, keder umat, dan kader bangsa. Adapun misi utamanya adalah membawa Muhammadiyah mencapai tujuannya. Dalam menjalankan tugasnya kader harus mempunya cara berfikir, sikap mental, kesadran beragama dan berorganisasi, serta keiklasahan.
Ada beberapa startegi perjuangan Muhammadiyah yang dilakukannya sebagai Gerakan Islam, tajdid dan dakwah yaitu:
1.      Strategi kelembagaan
a.       Urgensi pendekatan sistem terhadap Muhammadiyah
b.      Kedudukan dan fungsi lembaga-lembaga/badan-badan dalam Muhammadiyah:
1)      kedudukan dan fungsi majlis
2)      kedududukan dan fungsi badan
3)      kedudukan dan fungsi ortom
4)      kedudukan dan fungsi Amal usaha
c.       Esensi dan fungsi organisasi sebagai istrumen gerakan.
d.      Pola dan mekanisme antar lembaga/badan
e.       Manajemen organisasi
f.       Aspek rekruitmen personal pimpinan persyarikatan dan amal usaha
g.      Kepemimpinan sebagai arus penggerak
2.      Strategi Sosial-Budaya
a.       Peran global Muhammadiyah dalam dimensi politik, kemasyarakatan, kebangsaan, ilmu pengetahuan ekonomi dan pendidikan.
b.      Peran Muhammadiyah dalam dimensi keagamaan dan kehidupan umat.
c.       Alternatif pola gerakan dalam dimensi tersebut.
3.      Strategi perkaderan
a.       Pendidikan kader persyarikatan
b.      Pendidikan kader umat
c.       Pendidikan kader bangsa
Stategi perekrutan kader Muhammadiyah yaitu secara internal dan eksternal. Secara internal yaitu melakukan pemantapan pemahaman ideologi Muhammadiyah di kalangan teman-teman, saudara dan anggota keluarga sendiri. Sedangkan secara eksternal yaitu melakukan perluasan-perluasan akses ke wilayah-wilayah yang dianggap memiliki potensi sumber daya manusia. Khusus rekrutmen ini, dilakukan dengan keterbukaan, transparan dan selektif.[5]
Muatan atau kurikulum dalam suatu perkaderan tidak lain adalam merupakan program yang direncanakan secara otomatis untuk mencapai tujuan dari perkaderan yang dimaksud. Melalui pembinaan Ideologis dan kepemimpinan, tujuan perkaderan dalam Muhammadiyah adalah terbentuknya kader Muhammadiyah, sebagai kader persyarikatan, kader ummat dan kader bangsa sesuai dengan misi Muhammadiyah. Bahwa ada 6 jenis materi kurikulum inti yang dikembangkan dalam perkaderan Muhammadiyah yaitu:
1.      Hakekat Islam
2.      Metodologi Pemahaman Islam
3.      Sejarah Gerakan Pembharuan
4.      Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam
5.      Kapita Selekta
6.      Strategi perjuangan Muhammadiyah

Sistem Perkaderan IMM
Perkaderan dalam IMM harus berjalan dengan baik sebab nadi dari Ikatan terletak ditangan seorang kader. Sebab kelanjutan perjuangan kepemimpinan selanjutnya yang akan menjalankan adalah para kader. Estafet kepemimpinan, kepengurusan serta yang menjalankan sebuah roda organisasi yakni kader. Dalam Nilai Dasar Ikatan poin kelima menerangkan bahwa Kader IMM merupakan inti masyrakat utama, yang selalu menyebarkan cita-cita kemerdekaan, keliaan dan kemaslahatan masyarakat sesuai dengan semangat pembebasan dan pencerahan yang dilakukan Nabiyullah SAW.[6]
Arah perkaderan IMM bertujuan untuk menciptakan sumber daya manusia yang memiliki kapasitas akademik yang memadai sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan zaman yang berakhlakul karimah dengan proyeksi sikap individual yang madiri, bertanggung jawab dan memiliki komitmen serta kompetisi perjuangan dakwah. Falsafah perkaderan IMM adalah mengembangkan nilai-nilai uswah, pedagofi-kritis dan hikmah untuk mewujudkan gerakan IMM sesuai dengan falsafahnya yakni IMM adalah gerakan intelektual.
Sasaran perkaderan IMM adalah mahasiswa, anggota, calon pimpinan, pimpinan dan istruktur. Target perkaderan utama diproyeksikan untuk terbentuknya sumber daya kader struktural dan fungsional yang profesional. Target perkaderan utama dalah terinternalisasikan nilai-nilia perjuangna visi dan misi IMM sekaligus terciptanya kader pimpinan yang memiliki kompetensi dan wawasan yang sesuai dengan tingkatan kepemimpinan masing-masing. Sedangkan target perkaderan khusus diproyeksikan pada terbentunya pengelola perkaderan yang progesional. Target perkaderan khusus adalah meningkatnya kualitas sumber daya kader menurut minat, bakan, profesi, keterampilan dan keahlian di bidang tertentu.[7]
Landasan perkaderan ada tiga landasan yaitu: landasan nilai atau etika adalah landasan yang mengatur secara normatif dan mendasar seluruh pelaksanaan kegiatan perkaderan IMM yaitu al-Qur’an dan as-sunnah yang secara operasional dijabarkan dalam khittah perjuangan Muhammadiyah dan Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah. Landasarna Hukum: pancasila, UUD 1945, UU No 8 th 1985 tentang keormasan. Landasan formal organisasi: keputusan PP Muhammadiyah tentang Kaidah Ortom, Keputusan muktamar XII IMM di Bandar Lampung, Program Kerja DPP IMM bidang kader.
Materi kurikulum yang termuat dalam perkaderan IMM dikembangkan da;am lima kelompok materi yaitu:
1.      Materi pokok Ideologi
2.      Materi Pokok keroganisasian/kepemimpinan
3.      Materi pokok wawasan; kapita selekta
4.      Materi pokok terapan
5.      Muatan lokal
Dari kelima kelompok materi itu dikembangkan silabi untuk masing-masing komponen dan jenjangn yang dibangun dengan pendekatan muatan Nasional dan muatan Lokal yang dikemas secara ideal dan dinamis.
Komponen dan jenjang perkaderan dalam IMM terbagi menjadi:
1.      komponen pra perkaderan yaitu suatu komponen awal yang berfungsi untuk mengenalkan dan memasyaraktakan IMM, sekaligus sebagai wahana rekruitmen anggota serta sebagai persiapan untuk memasuki perkaderan Darul Arqom Dasar.
2.      komponen perkaderan utama yaitu komponen utama yang bersifat wajib dan merupakan komponen pokok perkaderan IMM. Komponen ini bersifat mengikat dan secara struktural menjadi prasyarat tertentu. Secara berjenjang, perkaderan utama terdiri dari tingkatan-tungkatan yaitu pDarul Arqam Dasar (DAD), Darul Arqam Madya (DAM) dan Darul Arqam Paripurna (DAP)
3.      komponen perkaderan khusus yaitu komponen perkaderan yang ditujukan dalam rangka mendukung komponen utama dengan pendekatan khusus. Komponen ini dilaksanakan dalam rangka meningkatkan kemampuan, keterampilan dan kecakpan khusus. Adapun tingkatannya yaitu Latihan Instruktur Dasar (LID), Latihan Instruktur Madya (LIM) dan Latihan Instruktur Paripurna (LIP).
4.      kompenen perkaderan pendukung yaitu komponen perkaderan yang dilaksanakan untuk mengingkaykan potensiu kader sesuai minta, bakat, keterampilan, keahlian serta kemampuan dalam rangka mendukung keberhasilan proses kaderisasi ikatan. Terdapat perkaderan pendukung poko juga terdapat perkaderan pendukung tambahan.

Korelasi SPR, SPM dan SPI
Sistem perkaderan pada masa Rasulullah, sistem perkaderan Muhammadiyah dan sistem perkaderan IMM saling berhubungan. Secara filosofis sistem perkaderan Ikatan merupakan penerjemahan perkaderan yang dilakukan Rasulullah. Hal tersebut dapat dilihat dari nama perkaderan yaitu Darul Arqam. Dimana Darul Arqam tersebut merupakan tempat awal dimana digunakan Rasulullah untuk kaderisasi. darul Aqam diambil dari nama sahabat Rasulullah yaitu Arqam Ibn Abil Arqam. Ditempat itu muncullah generasi awal Islam seperti Abu Bakar, Ali Ibnu Abi Thalib, Siti Khadijah dan yang lainnya.
Perkaderan yang dilakukan Rasulullah yakni menanamkan nilai-nilai Islam secara kaffah dan mengubah kesadran hingga timbul kesadaran al syaksiyah faal fadli (hablum minallah dan hamblum ninanas).[8] Hubungan dari ketiganya itu disebabkan nama perkaderan yang sama yakni sama-sama menggunakan Darul Arqam. Darul Arqam saat Rasulullah sebagai awal lahirnya generasi awal Islam. Darul Arqam pada perkaderan Muhammadiyah merupakan bentuk perkaderan yang khas dan utama dalam kaderisasi Muhammadiyah yang bertujuan membentuk cara berfikir dan sikap yang sama tentang Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam, Gerakan Tajdid, dan Gerakan Da’wah Islam Amar Ma’ruf Nahi Munkar bagi setiap angota serta pimpinan persyarikatan.[9] Darul Arqam di perkaderan IMM merupakan sebagai tempat internalisasi nilai-nilai Ikatan dan berorientasi pada Ideologi Ikatan.

Perkaderan Jantung Ikatan
Mengapa jantung? Sebab jantung adalah sumber kehidupan yang ada didiri manusia. Jika jantung itu rusak, mati atau hilang. Maka manusia itu tak akan bisa hidup, manusia itu mati. Sebab jantung merupakan pusat dari seluruh tubuh. Begitupula IMM, perkaderan merupakan sumbu gerakan, tanpa adanya perkaderan sebuah gerakan tampak seperti paguyuban kadangkala harus bubar, karena ketiadaan regenerasi dan lenyapnya semangat ”kesukaan” atau hobi yang menyatu.[10]
Perkaderan sangatlah penting oleh sebab itu dalam membuat sebuah perkaderan harus sesuai dengan Sistem Perkaderan Ikatan. Ketidakcocokan akan hanya membuat perkaderan dikatakan gagal. Berdasarkan pengalaman responden hanya 70 persen perkaderan yang sesuai dengan SPI yang 30 persen tidak sesuai dengan SPI. Hal inilah yang menyebabkan banyak kader yang kurang mengerti IMM selulus DAD. Meski sudah selama dua tahun menjadi anggota IMM.
Agar ikatan berjalan dengan lancar, perkaderan harus dijalankan sesuai dengan Sistem Perkaderan Ikatan. Materi-materi yang disampaikan dan pemateri harus benar-benar faham dengan materi. Perkaderan dalam IMM ada dua macam yakni formal dan no-formal. Akan tetapi, sering dijumpai seakan-akan dengan adanya perkaderan formal maka selesailah proses perkaderan. Padahal penentu yang lebih besar terhadap proses perkaderan adalah pasca perkaderan (follow up).
Kader sebagai penerus estafet kepemimpinan. Tanpa adanya kader maka organisasi itu akan mandek, stagnan, tak bisa berjalan. Sebab tidak ada yang menjalankannya. Siapa yang akan menjalankan jika tidak ada kader? Apa tetap orang yang sama selama bertahun-tahun. Itu tidak mungkin, sebab manusia akan mati. Oleh sebab itu diperlukannya kader bagi ikatan.
Pak Din Syamsudin dalam buku karanganny Muhammadiyah untuk Semua, beliau menuliskan bahwa Muhammadiyah dapat melewati usia satu abad ini karena mampu melahirkan kader-kader terbaik. Yaitu, kader yang handal yang mampu meneruskan perjuangan para perintis dan pendahulunya. Saya menyaksikan sendiri bagaimana ranting, cabang, derah dan wilayah dapat bertahan, tumbuh dan maju karena memiliki stok kader persyarikatan yang handal. Dibanyak tempat, generasi pertama perintis persyarikatan amal usaha muhammadiyah mampu menghasilkan generasi kedua penerus perjuangan muhammadiyah. Malahan ada yang mampu mempertahankan jalur kaderisasi ini sampai ke generasi ketiga dan keempat. Yang paling banyak terjadi sekarang, usia kaderisasi di persyarikatan di ranting atau cabang sudah berlangsung dua generasi dan tiga generasi.
Salah satu jalur yang paling strategis adalah jalur keluarga. Keluarga perintis muhammadiyah di sebuah tempat mampu melahirkan generasi penerusnya, demikian seterusnya. Ini biasanya terjadi karena generasi perintis muhammadiyah ini memang betul-betuk kader militan, handal, saleh dan memiliki daya juang tinggi serta memiliki visi yang jauh ke depan. Dalam bahasa agama, mereka yang demikian, selain selalu mencari ridla Allah swt, juga menyadari isi dan makna sebuah hadits yang menyatakan bahwa kalau seorang anak adam meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali mereka yang memberikan shadaqah jariyah, memberikan ilmu yang bermanfaat dan melahirkan anak-anak shaleh yang mendoakannya.[11]

Kesimpulan
Perkaderan amatlah penting untuk kelanjutan sebuah organisasi. Oleh sebab itulah dibuatkan prosedur dalam mengkader yakni Sistem Perkaderan. Agar perkaderan itu tidak melenceng maka dalam pengelolaan perkaderan harus sesuai dengan Sistem Perkaderan yang didalamnya sudah sangat lengkap apa kurikulum dan strategi yang digunakan. Karena kader adalah pemegang estafet selanjutnya setelah orang sebelumnya dimisioner. Misalnya, angkatan 17 dimisioner maka yang melanjutkan kepemimpinan adalah angkatan 18 dan angkatan 19. Jika tak ada kader, maka organisasi itu akan mati.
Daftar Pustaka
Ahmadi, Markus dan Amminuddin Anwar. 2014.  Genealogi Kaum Merah: Pemikiran dan Gerakan. Yogyakarta: Rangkang Education.
DPP IMM. 2011. Sistem Perkaderan Ikatan. Yogyakarta: DPP IMM.
Pimpinan Pusat Muhammadiyah. 1990. Sistem Perkaderan Muhammadiyah. Yogyakarta: Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Badan Pendidikan Kader.
Syamsudin, Din. 2014. Muhammadiyah untuk Semua. Yogyakarta: suara muhammadiyah.


[2] Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sistem Perkaderan Muhammadiyah. (Yogyakarta: Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Badan Pendidikan Kader. 1990). 1.
[3] Ibid. 9.
[4] Ibid. 13.
[6] Markus Ahmadi dan Amminuddin Anwar.  Genealogi Kaum Merah: Pemikiran dan Gerakan. (Yogyakarta: Rangkang Education. 2014). 100.
[7] DPP IMM. Sistem Perkaderan Ikatan. (Yogyakarta: DPP IMM. 2011). 2.
[8] DPP IMM. Sistem Perkaderan Ikatan. (Yogyakarta: DPP IMM. 2011). IX.
[9] Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sistem Perkaderan Muhammadiyah. (Yogyakarta: Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Badan Pendidikan Kader. 1990). 20.
[10]Markus Ahmadi dan Amminuddin Anwar.  Genealogi Kaum Merah: Pemikiran dan Gerakan. (Yogyakarta: Rangkang Education. 2014). 149.
[11] Din Syamsudin. Muhammadiyah untuk Semua. (Yogyakarta: suara muhammadiyah. 2014). 10.