72 Tahun Indonesia Merdeka. Tujuh puluh dua tahun yang lalu Indonesia telah mampu merebut kemerdekaan dari berbagai pihak penjajah. Indonesia telah dijajah oleh berbagai bangsa mulai Inggris, Protugis, Belanda dan Jepang. hingga sampailah semangat yang membara dari para pemuda Indonesia untuk segera memerdekakan Indonesia di tanggal 17 Agustus 1945. langkah itu ditempuh dengan berbagai rintangan. Namun, meski Indonesia telah dinyatakan merdeka. Akan tetapi, Indonesia sejatinya belum merdeka dari kemiskinan dan keterbelakangan. Masih banyak kaum mustadh'afin yang harus ditolong dan dipikirkan oleh pemerintah dan masyarakat yang berpunya. Oleh karena itu, peran kaum pemuda terutama mahasiswa harus terlihat nyata untuk merubah Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik. sebab tugas mahasiswa selain sebagai pelajar di bangku kuliah, ia juga sebagai agen of control, agen of change, dan tugas-tugas yang lainnya. maka mahasiswa dikenal dengan kaum idealis.
Tampilkan postingan dengan label IMM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IMM. Tampilkan semua postingan
Selasa, 15 Agustus 2017
Kamis, 03 November 2016
IMM
Diposting oleh
putri-flower.blogspot.co.id
di
19.46
IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH
www.imm.or.id
MELACAK JEJAK SEJARAH
KELAHIRAN IMM tidak lepas kaitannya dengan sejarah perjalanan Muhammadiyah, dan juga bisa dianggap
sejalan dengan faktor kelahiran Muhammadiyah itu sendiri. Hal ini
berarti bahwa setiap hal yang dilakukan Muhammadiyah merupakan
perwujudan dari keinginan Muhammadiyah untuk memenuhi cita-cita sesuai dengan kehendak Muhammadiyah dilahirkan.
Di
samping itu, kelahiran IMM juga merupakan respond atas
persoalan-persoalan keummatan dalam sejarah bangsa ini pada awal
kelahiran IMM, sehingga kehadiran IMM sebenarnya merupakan sebuah
keharusan sejarah. Faktor-faktor problematis dalam persoalan keummatan
itu antara lainialah sebagai berikut (Farid Fathoni, 1990: 102):
1. Situasi kehidupan bangsa yang tidak stabil, pemerintahan yang otoriter dan serba tunggal, serta adanya ancaman komunisme di Indonesia.
2. Terpecah-belahnya umat Islam datam bentuk saling curiga dan fitnah, serta kehidupan politikummat Islam yang semakin buruk.
3.Terbingkai-bingkainya kehidupan kampus (mahasiswa) yang berorientasi pada kepentingan politik praktis
4.Melemahnya kehidupan beragama dalam bentuk merosotnya akhlak, dan semakin tumbuhnya materialisme-individualisme
5.Sedikitnya pembinaan dan pendidikan agama dalam kampus, serta masih kuatnya suasana kehidupan kampus yang sekuler
6.Masih membekasnya ketertindasan imperialisme penjajahan dalam bentuk keterbelakangan, kebodohan, dan kemiskinan
7.Masih banyaknya
praktek-praktek kehidupan yang serba bid'ah, khurafat, bahkan kesyi
rikan, serta semakin meningkatnya misionaris- Kristenisasi
8. Kehidupan ekonomi, sosial, dan politik yang semakin memburuk
Dengan latar belakang tersebut, sesungguhnya semangat untuk mewadahi dan membina mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah telah dimulai sejak lama. Semangat tersebut sebenarnya telah
tumbuh dengan adanya keinginan untuk mendirikan perguruan tinggi
Muhammadiyah pada Kongres Seperempat Abad Muhammadiyah di Betawi Jakarta pada tahun 1936. Pada saat itu, Pimpinan Pusat
Muhammadiyah diketuai oleh KH. Hisyam (periode 1934-1937). Keinginan
tersebut sangat logis dan realistis, karena keluarga besar Muhammadiyah
semakin banyak dengan putera-puterinya yang sedang dalam penyelesaian
pendidikan menengahnya. Di samping itu,Muhammadiyah juga sudah banyak
memiliki amal usaba pendidikan tingkat menengah.
Gagasan pembinaan kader di lingkungan mahasiswa datam bentuk penghimpunan dan pembinaan langsung adatah selaras dengan kehendak pendiri Muhammadiyah, KHA. Dahlan, yang berpesan babwa "dari kallan nanti akan ada yang jadi dokter, meester, insinyur, tetapi kembalilah kepada Muhammadiyah" (Suara Muhammadiyah, nomor 6 tahun ke-68, Maret || 1988, halaman 19). Dengan demikian, sejak awal Muhammadiyah sudah memikirkan bahwa kader-kader muda yang profesional harus memiliki dasar keislaman yang tangguh dengan kembali ke Muhammadiyah.
Namun demikian, gagasan untuk menghimpun dan membina mahasiswa di lingkungan Muhammadiyah cenderung terabaikan, tantaran Muhammadiyah sendiri belum memiliki perguruan tinggi. Belum mendesaknya pembentukan wadah kader di lingkungan mahasiswa Muhammadiyah saat
itu juga karena saat itu jumlah mahasiswa yang ada di lingkungan
Muhammadiyah betum terialu banyak. Dengan demikian, pembinaan
kadermahasiswa Muhammadiyah dilakukan melalui wadah Pemuda Muhammadiyah
(1932) untuk mahasiswa putera dan metalui Nasyiatul Aisyiyah (1931) untuk mahasiswa puteri.
Pada Muktamar Muhammadiyah ke-31 pada tahun
1950 di Yogyakarta, dihembuskan kembali keinginan untuk mendirikan
perguruan tinggi Muhammadiyah. Namun karena berbagai macam hat,
keinginan tersebut belum bisa diwujudkan,sehingga gagasan untuk dapat
secara langsung membina dan menghimpun para mahasiswa dari kalangan
Muhammadiyah tidak berhasil Dengan demikian, keinginan untuk membentuk
wadah bagi mahasiswa Muhammadiyah juga masih jauh dari kenyataan.
Pada
Muktamar Muhammadiyah ke-33 tahun 1956 di Palembang, gagasan pendirian
perguruan tinggi Muhammadiyah baru bisa direalisasikan. Namun gagasan
untuk mewadahi mahasiswa Muhammadiyah dalam satu himpunan belum bias
diwujudkan. Untuk mewadahi pembinaan terhadap mahasiswa dari kalangan
Muhammadiyah, maka Muhammadiyah membentuk Badan Pendidikan Kader (BPK)
yang dalam menjalankan aktivitasnya bekerja sama dengan Pemuda
Muhammadiyah.
Gagasan
untuk mewadahi mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah dalam satu himpunan
setidaknya telah menjadi polemik di lingkungan Muhammadiyah sejak lama.
Perdebatan seputar kelahiran Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah berlangsung
cukup sengit, baik di kalangan Muhammadiyah sendiri maupun di kalangan
gerakan mahasiswa yang lain. Setidaknya, kelahiran IMM sebagai wadah
bagi mahasiswa Muhammadiyah mendapatkan resistensi, baik dari kalangan
Muhammadiyah sendiri maupun dari kalangan gerakan mahasiswa yang lain,
terutama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Di kalangan Muhammadiyah
sendiri pada awal munculnya gagasan pendirian IMM terdapat anggapan
bahwa IMM betum dibutuhkan kehadirannya dalam Muhammadiyah, karena
Pemuda Muhammadiyah dan Nasyi'atul Aisyiyah masih dianggap cukup mampu
untuk mewadahi mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah.
Di
samping itu, resistensi terhadap ide kelahiran IMM pada awalnya juga
disebabkan adanya hubungan dekat yang tidak kentara antara Muhammadiyah
dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Hubungan dekat itu dapat ditihat
ketika Lafran Pane mau menjajagi pendirian HMI. Dia bertukar pikiran
dengan Prof. Abdul Kahar Mudzakir (tokob Muhammadiyah), dan beliau
setuju. Pendiri HMI yang lain ialah Maisarah Hilal (cucu KHA. Dahlan)
yang juga seorang aktifis di Nasyi'atul Aisyiyah.
Bila
asumsi itu benar adanya, maka hubungan dekat itu selanjutnya sangat
mempengaruhi perjalanan IMM, karena dengan demikian Muhammadiyah saat
itu beranggapan bahwa pembinaan dan pengkaderan mahasiswa
Muhammadiyah bisa dititipkan metalui HMI (Farid Fathoni, 1990: 94).
Pengaruh hubungan dekat tersebut sangat besar bagi kelahiran IMM. Hal
ini bisa dilihat dari perdebatan tentang kelahiran IMM. Pimpinan
Muhammadiyah di tingkat lokal seringkali menganggap bahwa kelahiran IMM
saat itu tidak diperlukan, karena sudah terwadahi dalam Pemuda
Muhammadiyah dan Nasyi'atulAisyiyah, serta HMI yang sudah cukup eksis
(dan mempunyai pandangan ideologis yang sama). Pimpinan Muhammadiyah
pada saat itu lebih menganak- emaskan HMI daripada IMM. Hal ini terlihat
jelas dengan banyaknya pimpinan Muhammadiyah, baik secara pribadi
maupun kelembagaan, yang memberikan dukungan pada aktivitas HMI. Di
kalangan Pemuda Muhammadiyah juga terjadi perdebatan yang cukup sengit
seputar kelahiran IMM. Perdebatan seputar kelahiran IMM tersebut cukup
beralasan, karena sebagian pimpinan (baik di Muhammadiyah, Pemuda
Muhammadiyah, Nasyi'atul Aisyiyah, serta amal-amal usaha Muhammadiyah)
adalah kader-kader yang dibesarkan di HMI.
Setelah
mengalami polemik yang cukup serius tentang gagasan untuk mendirikan
IMM, maka pada tahun 1956 polemik tersebut mulai mengalami pengendapan.
Tahun 1956 bisa disebut sebagai tahap awal bagi embrio operasional
pendirian IMM dalam bentuk pemenuhan gagasan penghimpun wadah mahasiswa
di lingkungan Muhammadiyah (Farid Fathoni, 1990: 98). Pertama, pada
tahun itu (1956) Muhammadiyah secara formal membentuk kader terlembaga
(yaitu BPK). Kedua, Muhammadiyah pada tahun itu telah bertekad untuk
kembali pada identitasnya sebagai gerakan Islam dakwah amar ma'ruf nahi
munkar (tiga tahun sesudahnya, 1959, dikukuhkan dengan melepaskan diri
dari komitmen politik dengan Masyumi, yang berarti bahwa Muhammadiyah
tidak harus mengakui bahwa satu-satunya organisasi mahasiswa Islam di
Indonesia adalah HMI). Ketiga, perguruan tinggi Muhammadiyah telah
banyak didirikan. Keempat, keputusan Muktamar Muhammadiyah bersamaan
Pemuda Muhammadiyah tahun 1956 di Palembang tentang "....menghimpun
pelajar dan mahasiswa Muhammadiyah agar kelak menjadi pemuda
Muhammadiyah atau warga Muhammadiyah yang mampu mengembangkan amanah."
Baru
pada tahun 1961 (menjelang Muktamar Muhammadiyah Setengah Abad di
Jakarta) iselenggarakan Kongres Mahasiswa Universitas Muhammadiyah di
Yogyakarta (saat itu, Muhammadiyah sudah mempunyai perguruan tinggi
Muhammadiyah sebelas buah yang tersebar di berbagai kota). Pada saat
itulah, gagasan untuk mendirikan IMM digulirkan sekuat-kuatnya.
Keinginan tersebut ternyata tidak hanya dari mahasiswa Universitas
Muhammadiyah, tetapi juga dari kalangan mahasiswa di berbagai
universitas non-Muhammadiyah. Keinginan kuat tersebut tercermin dari
tindakan para tokoh Pemuda Muhammadiyah untuk melepaskan Departemen
Kemahasiswaan di lingkungan Pemuda Muhammadiyah untuk berdiri sendiri.
Oleh karena itu, lahirlah Lembaga Dakwah Muhammadiyah yang
dikoordinasikan oleh Margono (UGM, Ir.), Sudibyo Markus (UGM, dr.),
Rosyad Saleh (IAIN, Drs.), sedangkan ide pembentukannya dari Djazman
al-Kindi (UGM, Drs.).
Tahun
1963 dilakukan penjajagan untuk mendirikan wadah mahasiswa Muhammadiyah
secara resmi oleh Lembaga Dakwah Muhammadiyah dengan disponsori oleh
Djasman al-Kindi yang saat itu menjabat sebagai Sekretaris Pimpinan
Pusat Pemuda Muhammadiyah. Dengan demikian, Lembaga Dakwah Muhammadiyah
(yang banyak dimotori oleh para mahasiswa Yogyakarta) inilah yang
menjadi embrio lahirnya IMM dengan terbentuknya IMM Lokal Yogyakarta.
Tiga
butan setelah penjajagan, Pimpinan Pusat Muhammadiyah mere,smikan
berdirinya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah pada tanggal 29 Syawal 1384 H.
atau 14 Maret 1964 M. Penandatanganan Piagam Pendirian Ikatan Mahasiswa
Muhammadiyah dilakukan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah saat itu, yaitu
KHA. Badawi. Resepsi peresmian IMM dilaksanakan di Gedung Dinoto
Yogyakarta dengan penandatanganan 'Enam Penegasan IMM' oleh KHA. Badawi,
yaitu:
1. Menegaskan bahwa IMM adalah gerakan mahasiswa Islam
2. Menegaskan bahwa Kepribadian Muhammadiyah adalah landasan perjuangan IMM
3. Menegaskan bahwa fungsi IMM adalah eksponen mahesiswa dalam Muhammadiyah
4. Menegaskan bahwa IMM adalah organisasi mahasiswa yang sah dengan mengindahkan segala hukum, undang-undartg, peraturan, serta dasar dan falsafah negara
5. Menegaskan bahwa ilmu adalá amaliah dan amal adalah ilmiah
6. Menegaskan bahwa amal WJA aMah lillahi ta'ala dan senantiasa diabdWan untuk kepentingan rakyat.
Tujuan akhir kehadiran Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah untuk pertama kalinya ialah membentuk akademisi
Islam datam rangka metaksanakan tujuan Muhammadiyah. Sedangkan
aktifitas IMM pada awal kehadirannya yang paling menonjol ialah kegiatan
keagamaan dan pengkaderan, sehingga seringkali IMM pada awal
kelahirannya disebut sebagai Kelompok Pengajian Mahasiswa Yogya (Farid
Fathoni, 1990: 102).
Adapun maksud didirikannya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah antara lain adatah sebagai berikut:
1. Turut memelihara martabat dan membela kejayaan bangsa
2. Menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam
3.Sebagai upaya menopang, melangsungkan, dan meneruskan cita-cita pendirian Muhammadiyah
4. Sebagai pelopor, pelangsung, dan penyempurna amal usaha Muhammadiyah
5. Membina, meningkatkan, dan memadukan iman dan ilmu serta amal dalam kehidupan bangsa, ummat, dan persyarikatan
Dengan
berdirinya IMM lokal Yogyakarta, maka berdiri pulalah IMM lokal di
beberapa kota lain di Indonesia, seperti Bandung, Jember, Surakarta,
Jakarta, Medan, Padang, Tuban, Sukabumi, Banjarmasin, dan lain-lain.
Dengan demikian, mengingat semakin besarnya arus perkembangan IMM di
hampir seluruh kota-kota universitas, maka dipandang perlu untuk
meningkatkan IMM dari organisasi di tingkat lokal menjadi organisasi
yang berskala nasional dan mempunyai struktur vertikal.
Atas
prakarsa Pimpinan IMM Yogyakarta, maka bersamaan dengan Musyawarah IMM
se-Daerah Yogyakarta pada tanggal 11-13 Desember 1964 diselenggarakan
Musyawarah Nasional Pendahuluan IMM seluruh Indonesia yang dihadiri oleh
hamper seluruh Pimpinan IMM Lokal dari berbagai kota. Musyawarah
Nasional tersebut bertujuan untuk mempersiapkan kemungkinan
diselenggarakannya Musyawarah Nasional Pertama Ikatan Mahasiswa
Muhammadiyah pada bulan April atau Mei 1965. Musyawarah Nasional
Pendahuluan tersebut menyepakati penunjukan Pimpinan IMMYogyakarta
sebagai Dewan Pimpinan Pusat Sementara IMM (dengan Djazman al-Kindi
sebagai Ketua dan Rosyad Saleh sebagai Sekretaris) sampai
diselenggarakannya Musyawarah Nasional Pertama di Solo.
Dalam
Musyawarah Pendahuluan tersebut juga disahkan asas IMM yang tersusun
dalam 'Enam Penegasan IMM', Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga
IMM, Gerak Arah IMM, serta berbagai konsep lainnya, termasuk lambang
IMM, rancangan kerja, bentuk kegiatan, dan lain-lain.
PRINSIP DASAR ORGANISASI
Ikatan
Mahasiswa Muhammadiyah adalah gerakan mahasiswa Islam yang bergerak di
bidang keagamaan, kemasyarakatan, dan kemahasiswaan. Tujuan IMM adatah
mengusahakan terbentuknyaakademisi Islam yang berakhlak mulia dalam
rangka mencapai tujuan Muhammadiyah.
Dalam mencapai tujuan tersebut, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah melakukan beberapa upaya strategis sebagai berikut :
1. Membina para anggota menjadi kader persyarikatan Muhammadiyah, kader umat,
dan kader bangsa, yang senantiasa setia terhadap keyakinan dan cita-citanya.
2.Membina para anggotanya untuk selalu tertib dalam ibadah, tekun dalam studi, dan mengamalkan ilmu pengetahuannya untuk melaksanakan ketaqwaannya dan pengab diannya kepada allah SWT.
3.Membantu para anggota khusus dan mahasiswa pada umumnya dalam menyelesaikan kepentingannya.
4. Mempergiat,
mengefektifkan dan menggembirakan dakwah Islam dan dakwah amar ma'ruf
nahi munkar kepada masyarakat khususnya masyarakat mahasiswa.
5. Segala usaha yang
tidak menyalahi azas, gerakan dan tujuan organisasi dengan mengindahkan
segala hukum yang berlaku dalam Republik Indonesia.
JARINGAN STRUKTURAL IMM
Susunan organisasi IMM dibuat secara berjenjang dari tingkat Dewan Pimpinan Pusat, Dewan Pimpinan Daerah, Pimpinan Cabang, dan Komisariat. Dewan Pimpinan Pusat adatah tingkat pimpinan
tertinggi di IMM yang menjangkau ruang lingkup nasional. Dewan Pimpinan
Daerah adatah pimpinan organisasi yang menjangkau suatu kesatuan
wilayah tertentu yang terdiri dari cabang-cabang IMM. Pimpinan Cabang
adalah pimpinan organisasi yang menjangkau satu kesatuan komisariat IMM.
Komisariat IMM adatah kesatuan anggota-anggota IMM dalam sebuah
perguruan tinggi atau kelompok tertentu. Saat ini, Ikatan Mahasiswa
Muhammadiyah telah menjangkau seluruh wilayah Indonesia.
PROGRAM KERJA
Secara umum program kerja IMM dilaksanakan untuk memantapkan eksistensi organisasi demi mencapai
tujuannya, "mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak
mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah" (AD IMM Pasal 6). Untuk
menunjang pencapaian tujuan IMM tersebut, maka perencanaan dan
pelaksanaan program kerja diorientasikan bagi terbentuknya profil kader IMM yang memiliki kompetensi dasar aqidah, kompetensi dasar intelektual, dan kompetensi dasar humanitas. Sebagai organisasi yang bergerak di bidang keagamaan, kemasyarakatan, dan kemahasiswaan, maka program kerja IMM pada dasarnya tidak bisa lepas dari tiga bidang garapan tersebut. Perencanaan dan pelaksanaan program kerja tersebut memiliki stressing yang berbeda-beda (berurutan dan saling menunjang) pada masing-masing level kepemimpinan.
* Di tingkat Komisariat: kemahasiswaan, perkaderan,keorganisasian,kemasyarakatan.
* Di tingkat Cabang: Perkaderan, kemahasiswaan, keorganisasian, kemasyarakatan.
* Di tingkat Daerah: keorganisasian, kemasyarakatan, perkaderan, kemahasiswaan.
* Di tingkat Pusat: Kemasyarakatan, keorganisasian, perkaderan, kemahasiswaan.
Berkaitan
dengan program kerja jangka panjang, maka sasaran utamanya diarahkan
pada upaya perumusan visi dan peran sosial politik IMM memasuki abad
XXI. Hal ini tidak lepas dari ikhtiar untuk
memantapkan eksistensi IMM demi tercapainya tujuan organisasi (lihat AD
IMM Pasal 6). Sasaran utama dan program jangka panjang ini merujuk pada dan melanjutkan prioritas program yang telah diputuskan pada Muktamar Vll IMM di Purwokerto (1992). Program dimaksud menetapkan strategi pembinaan dan pengembangan organisasi secara bertahap, sistematis, dan berkelanjutan selama Lima periode Muktamar IMM.
Periode Muktamar IX diarahkan pada pemantapan konsolidasi internal (organisasi, pimpinan, dan program) dengan meningkatkan upaya pembangunan kualitas institusional dan pemantapan mekanisme kaderisasi dalam menghadapi perkembangan situasi sosial politik nasional yang semakin dinamis. Periode Muktamar X diarahkan pada penguatan orientasi kekaderan dengan meningkatkan mutu sumber daya kader sebagai penopang utama kekuatan organisasi datam transformasi sosial masyarakat. Periode Muktamar XI diarahkan pada penguatan peran institusi organisasi baik secara internal (pelopor, pelangsung, dan penyempurna gerakan pembaruan dan amal usaha Muhammadiyah) maupun eksternal (kader umat dan kader bangsa).
Periode
Muktamar XII diarahkan pada pemantapan peran IMM dalam wilayah
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara memasuki era
globalisasi yang lebih luas. Periode Muktamar XIll diarahkan pada
pemberdayaan institusi organisasi serta pemantapan peranan IMM dalam
kehidupan sosial politik bangsa.
Kemudian
pelaksanaan program jangka panjang itu memiliki sasaran khusus pada
masing-masing bidangnya. Bidang Organisasi diarahkan pada terciptanya
struktur dan fungsi organisasi serta mekanisme kepemimpinan yang mantap
dan mendukung gerak IMM dalam mencapai tujuannya. Program konsolidasi
gerakan IMM juga diarahkan bagi terciptanya kekuatan gerak IMM baik ke
datam maupun ke luar sebagai modal penggerak bagi pengembangan gerakan
IMM.
Bidang
Kaderisasi diarahkan pada penguatan tiga kompetensi dasar kader IMM
(aqidah, intelektual, dan humanitas) yang secara dinamis mampu
menempatkan diri sebagai agen pelaku perubahan sosial bagi kepentingan
masyarakat, bangsa, dan negara. Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
diarahkan pada pembangunan budaya iptek dan penguatan paradigma ilmu
yang melandasi setiap agenda dan aksi gerakan IMMdalam menyikapi
tantangan zaman.
Bidang
Hikmah diarahkan pada penguatan peran sosial politik IMM di tengah
kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya dalam peran serta dan
partisipasi sosial politik generasi muda (mahasiswa). Bidang Sosial
Ekonomi diarahkan pada penumbuhkembangan budaya dan wawasan wiraswasta
di lingkungan IMM, terutama dalam membangun dan memberdayakan potensi
ekonomi kerakyatan. Bidang Immawati diarahkan pada upaya penguatan jati
diri dan peran aktif sumber daya kader puteri IMM dalam transformasi
social menuju masyarakat utama.
Sumber: http://www.muhammadiyah.or.id/id/content-87-det-imm.html
Senin, 14 Maret 2016
Di Bulan Ramadhan pun Masjid juga Sepi
Diposting oleh
putri-flower.blogspot.co.id
di
06.13
Di Bulan Ramadhan pun Masjid juga
Sepi
By: Putri Nur Jannah (PK Averoes)
Mungkin disini kalian bertanya-tanya mengapa saya mengambil sebuah
judul masjid vs pasar. Apa tidak ada judul yang lebih baik dari ini. Taukah
anda bulan ramadhan merupakan bulan yang sangat mulia. Banyak manusia yang
menantikan kedatangannya. Sebab telah kita ketahui bersama bahwa bulan ini
membawa banyak berkah, banyak keutamaan-keutamaan yang tiada terkira.
Amalan-amalan yang kita lakukan pun akan dilipatgandakan tidak seperti pada bulan-bulan yang lainnya.
Fenomena yang sering kita lihat dimasyarakat yaitu bila memasuki
bulan ramadhan mereka membicarakan nanti aku akan sholat terawih di masjid ini
dan itu. Mempersipkan baju dan mukenah serta sajadah untuk sholat terawih.
Puasa hari pertama saat mendengarkan adzan berbuka, langsung meneguk air
setelah itu pergi ke masjid. Jika tidak langsung melaksanakan sholat maghrib.
Kemudian makan makanan berbuka yang telah dipersiapkan. Tidak berlama-lama
dalam berbuka, langsung menuju ke masjid untuk sholat terawih.
Hari pertama puasa dan hari kedua sholat terawih. Subhanallah shaf
begitu banyak telat lima menit saja sudah tidak mendapatkan shof terdepan.
Sungguh bulan ramadha telah menarik umat manusia untuk keluar dari rumahnya
melakukan sholat berjamaah di masjid. Tapi, akankah inu berjalan lama. Akankah
hari-hari selanjutnya seperti itu. Masjid akan semakin ramai dengan banyaknya
para jamaah sholat terawih dan para tadarus Al-qur'an. Ataukah justru semakin
menyusut shaf-shaf sholat.
A. Masjid
Masjid adalah tempat
yang digunakan oleh umat islam dalam melakukan kegiatan beribadah kepada Allah
SWT. Mulai dari melakukan sholat berjamaah, mengaji Al-qur'an dan kegiatan yang
lainnya. Masjid juga merupakan salah satu sarana untuk menjalin sebuah silaturahim
antara umat islam. Mulai yang kecil hingga dewasa, mulai yang kaya sampai yang
miskin semuanya dipersatukan dalam satu masjid. Tidak ada perbedaan diantara
mereka.
Tempat yang paling
disukai Allah di dunia adalah masjid dan tempat yang paling Dia benci adalah
pasar. Ini dijelaskan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjid dan tempat yang paling
dibenci Allah adalah pasar-pasar.” (HR. Muslim)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang
artinya):
إِنَّمَا
يَعۡمُرُ مَسَـٰجِدَ ٱللَّهِ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأَخِرِ
وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّڪَوٰةَ وَلَمۡ يَخۡشَ إِلَّا ٱللَّهَۖ
فَعَسَىٰٓ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ أَن يَكُونُواْ مِنَ ٱلۡمُهۡتَدِينَ (١٨(
“Hanya yang memakmurkan
masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari
kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut
(kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang
diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS.
At-Taubah: 18)
Memakmurkan masjid
menjadi ciri dan hak bagi orang beriman. Mereka adalah orang-orang pilihan
Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Adapun makna
“memakmurkan masjid” ini adalah membangun dan mendirikan masjid, mengisi dan
menghidupkannya dengan berbagai ibadah dan ketaatan kepada Allah Ta’ala,
menghormati dan memeliharanya dengan cara membersihkannya dari kotoran-kotoran
dan sampah serta memberinya wewangian.
Dengan kata lain semua
bentuk ketaatan apapun yang dilakukan di dalam masjid atau terkait dengan
masjid maka hal itu termasuk bentuk memakmurkannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
juga mengabarkan kabar gembira kepada orang yang terpaut hatinya pada masjid,
“Tujuh golongan yang
Allah akan menaungi mereka pada suatu hari (hari kiamat) yang tidak ada naungan
kecuali naungan-Nya; (diantaranya) Seorang penguasa yang adil, pemuda yang
dibesarkan dalam ketaatan kepada Rabbnya, seseorang yang hatinya selalu terpaut
dengan masjid, ….” (Muttafaqun alaihi)
Akan tetapi fenomena dalam
masyarakat masjid ramai hanya saat awal-awal bulan ramadhan saja. Sepuluh hari
terakhir bulan ramadhan pun mulai terlihat masyarakat meninggalkan shaf-shaf
sholatnya. Mereka mulai malas menginjakkan kakinya di rumah Allah. Tempat yang
paling dicintai oleh Allah. Banyak manusia yang enggan menginjakkan kakinya ke
masjid. Justru mereka lebih senang mengunjungi tempat selain masjid. Padahal
cukup datang ke masjid, lalu sholat dan membaca Al-qur'an tanpa mengelarkan
sepeser rupiahpun tak mau. Padahal jika kita ke tempat lain bisa saja
membutuhkan banyak biaya, uang 50 ribu tak akan cukup.
B. Pasar
Pasar adalah tempat
bertemunya antara penjual dan pembeli. Tempat dimana terjadinya nilai tukar
menukar antara uang dan barang ataukah sebaliknya. Dalam zaman yang semakin
maju, pasar tidak hanya saja pasar tradisional tapi juga pasar modern seperti
mall. Banyak manfaat yang bisa kita dapatkan di pasar. Tapi juga ada beberapa
kemadharatan di dalam pasar. Mengomentari hadits tersebut Imam Nawawi berkata
“karena pasar adalah tempat penipuan, kebohongan, riba, sumpah palsu, ingkar
janji dan berpaling dari dzikrullah (mengingat Allah) dan lain sebagainya.”
Pasar merupakan tempat
yang melalaikan. Lalai terhadap pekerjaan yang telah menanti, lalai untuk
segera pulang dan makin parahnya yaitu lalai dalam mengingat Allah. Lihat saja
saat adzan berkumandang. Suara adzan dikalahkan dengan hiruk pikuk suasana
pasar. Mereka tidak bersegera pergi ke masjid untuk menunaikan sholat melainkan
tetap duduk ditempatnya untuk melayani pembeli. Begitupun dengan pembeli tidak
bersegera ke masjid tapi tetap saja melanjutkan aktifitasnya memilih baju. Baju
baru untuk sholat idul fitri. Padahal tidak ada perintah untuk memakai baju
baru saat lebaran.
Justru yang diminta
yaitu memakai pakaian yang baik. Disini baik bukan berarti harus baru. Yang
setiap tahunnya saat lebaran membelinya. Al-Haifz Ibnu Jarir rahimahullah
berkata, "Diriwayatkan dari Ibnu Abu Dunya dan Baihaqi dengan sanad shahih
sampai ke Umar, bahwa beliau memakai baju yang terbaik pada dua hari raya (idul
fitri dan idul adha)." Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata,
"Disunnahkan bagi laki-laki pada hari raya untuk berhias dan memakai
pakaian yang terbaik." (Majmu Fatawa Wa Rosail Ibnu Utsaimin, 13/2461)
Dijelaskan pula bahwa
manusia dilarang untuk berlama-lama di dalam pasar. Sesuai dengan perkataan,
Salman al-Farisi berkata, “Jika engkau bisa, jangan sekali-kali menjadi orang
yang pertama kali masuk pasar dan paling akhir keluar darinya. Karena di
situlah medan pertempuran dengan setan, dan di sana setan menancapkan
benderanya.” (atsar riwayat Muslim)
Allah Subhanahu wa
Ta’ala membenci pasar, maka sudah sepantasnyalah seorang mukmin juga
membencinya, dia membenci apa yang dibenci Rabbnya.
Dalam hal ini kita
tidak dilarang untuk mengunjungi pasar. Akan tetapi yang tidak diperbolehkan
yaitu jika melalaikan melakukan ibadah kepada Allah. Karena di pasar juga
merupakan tempat untuk mencari nafkah bagi penjual dan tempat untuk mencari
kebutuhan bagi para pembeli. Akan tetapi sebagai muslim dan muslimah janganlah
kita bersenang jika berlama-lama di dalam pasar. Sebab didalamnya tidaklah
menimbulkan keuntungan. Cukup waktu seperlunya saja untuk berlama disana sesuai
dengan kebutuhan. Jika telah selesai lekas untuk meninggalkan pasar dan kembali
ke rumah atau ketempat yang disenangi oleh Allah.
C. Amalan di Masjid di terakhir bulan ramadhan
- Lebih giat dan bersungguh-sungguh dalam melakukan ibadah.
Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam juga senantiasa meningkatakan amalan ibadahnya di 10 hari terakhir pada
bulan Ramadhan. Hal ini dan sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits yang
diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:
كَانَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ
الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ.
“Pada 10 hari terakhir (di bulan
Ramadhan) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih bersungguh-sungguh (dalam
beribadah) melebihi hari-hari yang lainnya.” (HR. Muslim no. 1175)
- Menghidupkan malam-malamnya dengan memperbanyak ibadah.
Di awal-awal Ramadhan Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya menyertai ibadah shalat dan puasanya
dengan tidur, namun jika telah masuk pada 10 hari terakhir maka beliau pun
mengurangi kapasitas tidurnya. Dan beliau memanfaatkan malam-malamnya untuk
beribadah kepada Allah.
Di dalam musnad Imam Ahmad rahimahullah
terdapat hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang menyebutkan bahwa:
كَانَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْلِطُ الْعِشْرِينَ بِصَلَاةٍ
وصَوْمٍ وَنَوْمٍ، فَإِذَا كَانَ الْعَشْرُ شَمَّرَ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ.
“Pada
20 hari yang pertama (di bulan Ramadhan) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
biasa mengkombinasikan antara shalat, puasa dan tidurnya. Namun jika telah
masuk pada 10 hari yang terakhir beliau bersungguh-sungguh dan mengencangkan
sarungnya (menjauhi istri-istrinya).” (HR. Ahmad [6/68, 146])
- Membangunkan anggota keluarga.
Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam juga senantiasa membangunkan keluarganya untuk shalat, memperbanyak
dzikir dan bersungguh-sungguh dalam mengamalkan malam-malam bulan Ramadhan yang
penuh barakah ini.
Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha disebutkan bahwa:
كَانَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ
مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ.
“Jika
telah datang 10 hari yang terakhir (di bulan Ramadhan) Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam mengencangkan sarungnya, menghidupkan malam-malamnya (dengan
beribadah), dan beliau juga membangunkan keluarganya (untuk beribadah).” (HR.
al-Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174)
Pada 10 hari yang terakhir merupakan
kesempatan emas bagi setiap muslim untuk memperoleh pahala dari Allah Subhanahu
Wa Ta’ala. Maka dari itu kita harus bersungguh-sungguh dalam beribadah di
dalamnya, karena kita tidak akan pernah tahu apakah kita masih bisa bertemu
lagi dengan bulan Ramadhan yang akan datang atau tidak.
- Beri’tikaf
I’tikaf adalah menetap di dalam masjid
dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak melakukan
ketaatan dan ibadah kepada Allah. Dan hal ini merupakan sunnah Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam yang disebutkan di dalam al-Quran dan hadits Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلاَ
تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ
“Janganlah
kamu campuri mereka (istri-istrimu) itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid.”
(QS. al-Baqarah [2]: 187)
Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha disebutkan bahwa:
أَنَّ
النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ
الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ
أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ
“Sesungguhnya
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu beri’tikaf di 10 hari yang terakhir
dari bulan Ramadhan hingga Allah Ta’ala mewafatkannya. Kemudian setelah beliau
wafat, istri-istri beliau juga senantiasa beri’tikaf.” (HR. al-Bukhari no. 2026
dan Muslim no. 1172)
- Besungguh-sungguh dalam meraih malam lailatul qadar.
Pada penghujung bulan Ramadhan, tepatnya
di 10 (sepuluh) malam yang terakhir terdapat lailatul qadar,
yaitu suatu malam yang penuh kemuliaan dan keberkahan yang mana pahala ibadah
seorang hamba akan dilipat gandakan. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala
menjelaskan bahwa lailatul qadaritu lebih baik dari seribu
bulan.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّا
أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ، وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ،
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Sesungguhnya
Kami telah menurunkannya (al-Quran) pada malam kemuliaan, Dan tahukah kamu
apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu
bulan.”(QS. al-Qadr [97]: 1-3)
Maka dari itu, setiap muslim hendaknya
bersungguh-sungguh untuk bisa mendapatkan lailatul qadar, terutama di 10 malam
terakhir pada bulan Ramadhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
تَحَرَّوْا
لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Carilah
lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. al-Bukhari
no. 2020 dan Muslim no. 1169, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha)
D. Perilaku Konsumtif semakin meningkat
Dalam bulan ramadhan seharusnya
kebutuhan konsumsi semakin menurun, akan tetapi kenyataannya justru semakin
banyak pengeluaran untuk makanan, beli baju baru dan sebagainya. Jika saat
berbuka tidak makan es janggelan, es campur dan makanan yang lainnya itu terasa
tidak special. Apalagi jika telah mendekati lebaran kurang terasa jika tidak
memasak ketupat, opor ayam, kue kering dan minuman yang menyegarkan. Tak
ketinggalan pula membeli baju baru, sepatu baru dan aksesoris baru untuk
menunjang penampilan menjadi semacam prasyarat. Yang ditakutkan jika nanti
bertemu sanak keluarga dan teman tidak mengenakan baju baru bisa menjadi sebuah
gunjingan. Ini bukan hanya dilakukan oleh satu orang melainkan banyak orang.
Sudah menjadi kewajiban saat lebaran untuk melakukan beli sana beli sini.
Dengan banyaknya permintaan apakah
persediaan barang juga mencukupi? Itulah menjadi permasalahan semakin banyaknya
peminat dan barang yang diminati kurang banyak dipasaran. Hal inilah yang
menjadikan harga barang semakin mahal. Akan tetapi ramadhan selalu disambut
dengan belanja besar-besaran.
Swalayan
dan mall mengadakan promo besar-besaran menjelang ramadhan dan menjelang lebaran.
Baju baru discount 50% bahkan hingga 70%. Padahal jika dihitung-hitung sama
saja halnya dengan bulan-bulan sebelum ramadhan dan sesudahnya. Hanya berbeda
yang ini dapat discount besar-besaran yang biasanya hanya discount 10% saja.
E.
Lebih memilih
yang mengeluarkan uang dari pada yang tidak
Fenomena sekarang masnyarakat
justru lebih senang mengeluarkan uangnya untuk beli barang-barang yang hanya
digunakan untuk saat lebaran saja. Tapi malas untuk melakukan suatu amalan yang
itu benar-benar mendapatkan pahala yang luar biasa. Mereka lebih senang pergi
ke pasar, Pasar lebih padat dan ramai sampai-sampai ketika lewat badanpun tersa
tidak mau berpindah dari tempatnya. Bukannya betah tapi macet.
Seseorang jika
diminta untuk membaca Al-Qur’an ketika telah selesai sholat terawih mereka
beralasan ngantuk, capek dan alasan yang lainnya. Tapi jika pergi kepasar lima
jampun tak akan terasa membosankan dan melelahkan. Sepuluh hari terakhir bulan
ramadhan sangat ironis sekali melihat pemandangan di dalam masjid. Shaf-shaf
sholat terawih hanya tinggal 5 shaf. Yang pada hari-hari sebelumnya, pertama
kali sholat terawih tempat sholat sesak dengan jamaah. Tapi menginjak sepuluh
hari terakhir sepi dan yang tertinggal hanyalah segelintir orang saja.
F.
Referensi
1. http://www.muadz.com/amalan-di-10-hari-terakhir-bulan-ramadhan/
2. http://alfathonah.blogspot.com/2012/08/akhir-ramadhan-antara-masjid-dan-pasar_15.html
3. http://www.kompasiana.com/ratihnoko/mengenal-lebaran-effect_54f6b251a33311495d8b460b
PERKADERAN JANTUNG IKATAN
Diposting oleh
putri-flower.blogspot.co.id
di
06.11
PERKADERAN
JANTUNG IKATAN
Oleh:
Putri Nur Jannah (Kabid Kader PK. IMM Averoes UMSIDA)
Disusun
sebagai syarat kepesertaan Latihan Instruktur Dasar PC. IMM Sidoarjo
Latar Belakang
Kader (prancis: cadre) berarti elite, ialah bagian yang terpilih, yang
terbaik karena terlatih, berarti jantung suatu organisasi. Kalau kader lemah
maka suatu organisasi tidak bisa bekembang dan berjalan, maka seluruh elemen
organisasi itu lemah juga. Sedangkan jika kader itu kuat maka seluruh elemen
dalam organisasi itu kuat. Kader merupakan suatu inti dari suatu resimen. Daya
juang resimen ini sangat tergantung dari niali kadernya, yang merupakan tulang
punggung, pusat semangat dan avant-gardennya. Maka jelaskah bahwa hanya
orang-orang yang bermutu itulah, yang terpilih dan pengalaman dalam medan
pertempuran, yang taat dan berinisiatif yang dapat disebut kader.
Kader disebut quadrum yang berarti empat persegi panjang atau kerangka.
Dengan demikian kader dapat didefinisikan sebagai kelompok manusia yang terbaik
karena terpilih yaitu merupakan inti dan tulang punggung (kerangka) dari
kelompok yang lebih besar dan terorganisir secara permanen.
Sistem perkaderan diartikan seperangkat unsur dari keseluruhan komponen
yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas yang
berhubungan dengan kader dan kaderisasi. sebagai sebuah sistem, unsur-unsur
yang terkandung dalam sistem perkaderan yaitu tujuan perkaderan, arah
perkaderan, profil kader, jenis dan bentuk perkaderan, struktur perkaderan,
kurikulum perkaderan, dan pengorganisasian perkaderan.
Perkaderan tidaklah dimulai pada saat sekarang saja. Dahulunya Rasulullah
juga melakukan sebuah perkaderan untuk melanjutkan perjuangan dakwahnya dalam
menyebarkan agama Islam. Begitu pula pada organisasi Islam terbesar yakni Muhammadiyah.
Sebagai rangka melanjutkan estafet kepemimpinan diperlukan sebuah proses
kaderisasi. Dan tak tertinggal pula salah satu organisasi otonom Muhammadiyah
yakni IMM juga melakukan rekruitmen atau pencarian kader sebagai penerus
pengemban amanah dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan berfastabiqul khairat. \
Kaderisai menurut islam diartikan sebagai usaha mempersiapkan calon-calon
pemimpin hari esok yang tangguh dalam mempertahankan dan mengembangkan
identitas khoiruh ummah, umat terbaik. Ini sesuai dengan seruang Allah dalam QS.
Al-Imran: 110. Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia,
menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada
Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di
antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang
fasik.
Dalam artikel ini akan dijelaskan sistem perkaderan pada masa Rasulullah,
sistem perkaderan yang ada di Muhammadiyah, sistem perkaderan Ikatan Mahasiswa
Muhammadiyah dan korelasi antara ketiga sistem perkaderan tersebut. Bahwa ada
garis merah antara tiga sistem perkaderan tersebut.
Sistem
Perkaderan Rasulullah
Dalam melakukan kaderisasi Rasulullah tidak sembanrangan. Beliau melakukan
apa yang ia katakan kepada kadernya. Sehingga kadernya menjadi taat dan
melaksanakan apa yang beliau serukan.[1]
Kunci sukses kaderisasi juga Allah ingatkan dalam al-qur’an surat ash-Shaff
ayat 2-3 yang artinya (2) Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu
mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (3) Amat besar kebencian di sisi
Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.
Darul Arqam, sebuah rumah di wilayah mekah milik salah seorang sahabat yang
menjadi temapat Rasulullah saw mengkader para sahabatnya sebelum peristiwa
hijrah ke Madinah. Ditempat itu selama 13 rahun Rasulullah mencetak generasi
yang menjadi penyokong-penyokong utama menegakkan dahwah nubuwah.
Stategi yang digunakan Rasulullah dalam mendidik mereka adalah melalui
keteladanan. Rasulullah tidak hanya menyampaikan, akan tetapi mempratikkan
ajarannya secara langsung kepada mereka.
Sasaran kaderisasi Rasulullah yaitu orang terdekatnya seperti para
sahabatnya yakni Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin al-Khattab dan para sahabat yang
lainnya. Adapun muatan yang digunakan
dalam proses awal kaderisasi yakni penanam aqidah Islam secara menyeluruh dan
mendalam. Secara garis besar Rasulullah melakukan pembinaan dan pengajaran
periode Makkah yaitu pendidikan tauhid dalam teori dan praktek serta pendidikan
al-Qur’an. Sedangkan pembinaan dan pengajaran di Madinah yaitu pembentukan dan
pembinaan masyarakat baru menuju satu
kesatuan sosiopolitik, Pendidikan politik dan kewarganegaraan.
Sistem
Perkaderan Muhammadiyah
Perkaderan dalam Muhammadiyah lahir seiring dengan proses pembinaan calon
anggota dan anggota Muhammadiyah untuk menghasilkan tenaga-tenaga inti penerus
misi dan gerakan Muhammadiyah yang dilaksanakan melalui berbagai upaya serta
media, baik langsung maupun tidak langsung.[2]
Perkaderan semacam ini dimulai saat kepemimpinan KH. Ahmad Dahlan dan
pemimpin-pemimimpin Muhammadiyah selanjutnya dengan cara dan metode yang
berbeda, namun semangat yang dikandungnya yang sama.
Perkembangan Muhammadiyah yang begitu pesat dengan banyaknya amal usaha
yang dimiliki. Itu semua tidaklah dapat dipisahkan dari kegiatan kaderisasi dan
pendidikan kader. Muhammdiyah lahir, terus berkembanga, begitu pula program
pendidikan atau pembinaan kader menjadi program yang diutamakan dengan
metode-metode dan sistem pengajian, latihan, pendidikan formal (pembinaan
kader, kaderisasi, perkaderan) merupakan tuntutan yang tidak dapat dilepaskan
dari keberadaan serta perkembangan Muhammadiyah. Bahwasannya pada masa
mendatang jauh lebih menuntut penanganan yang serius, terprogram secara baik
dan strategis.[3]
Kaderisasi dalam Muhammadiyah menjadi kebutuhan yang utama disebabkan
perkembangan yang dihadarpi Muhammadiyah, potensi dan kebesarannya,
masalah-masalah yang dihadapi, dan tantangan besar yang menantang di depannya
sedemikian kompleks dan sarat kedinamisan. Maka lebih menjadi kebutuhan lagi,
bila diproyeksikan ke masa depan Muhammadiyah, yang jelas-jelas membutuhkan
persiapan generasi yang tanggung dalam segalanya. Perhatian, motivasi serta
partisipasi kepada Muhammadiyah didasarkan atas rasa ketertarikan moral Islami
dan ukhuwah Islamiyah, tentu positif. Namun jika ketertarikan dilihat sebagai
fasilitas sosial, ekonomi, politik, maka perlu diseleksi.
Karya-karya filosofis yang sebagai jawaban kekaburan serta pergeseran nilai
di dalam kehidupan Muhammadiyah yang merujuk kepada nilai-nilai Islam dan jiwa
gerak Muhammadiyah. Sedangkan di fihak lain sebagai upaya pemagaran terhadap
pengaruh-pengaruh luar secara filosofis dengan tidak meremehkannya. Karya itu
adalah Muqaddimah Angggaran Dasar Muhammadiyah. Demikian kelahiran rumusan
Khittah perjuangan Muhammadiyah, juga rumusan kepribadian, Matan Keyakinan dan
Cita-cita Hidup Muhammadiyah. [4]
Untuk menjawab itu semua diperlukan sebuah pendekatan filosofis. Uregensi
pendekatan filosofis dikaitakan pada Muhammadiyah dalam kedudukannya Gerakan
Islam, Gerakan Tajdid, Gerakan Dakwah secara sebenar-benarnya. Dengan
pendekatan filosofis tersebut maka akan dapat difahami peta permasalahan yang
secara mendasar maupun menyeluruh. Dengan pendekatan folosofis dapat diupayakan
langkah penanaman ideologis dalam bentuk pembinanaan nilai-nilai Islam dan
perilaku kepemimpinan serta perilaku bermuhammadiyah bagi segenap anggota
Muhammadiyah secara terprogram.
Hakekat kader muhammadiyah bersifat tunggal, yang terkontrol dalam tema
”Hanya Satu Kader Muhammadiyah”. Sedangkan fungsi tugasnya bersifat ke dalam
dan ke luar, yakni sebagai kader persyarikatan, keder umat, dan kader bangsa.
Adapun misi utamanya adalah membawa Muhammadiyah mencapai tujuannya. Dalam
menjalankan tugasnya kader harus mempunya cara berfikir, sikap mental, kesadran
beragama dan berorganisasi, serta keiklasahan.
Ada beberapa startegi perjuangan Muhammadiyah yang dilakukannya sebagai
Gerakan Islam, tajdid dan dakwah yaitu:
1. Strategi kelembagaan
a.
Urgensi pendekatan sistem terhadap Muhammadiyah
b.
Kedudukan dan fungsi lembaga-lembaga/badan-badan
dalam Muhammadiyah:
1) kedudukan dan fungsi
majlis
2) kedududukan dan
fungsi badan
3) kedudukan dan fungsi
ortom
4) kedudukan dan fungsi
Amal usaha
c.
Esensi dan fungsi organisasi sebagai istrumen
gerakan.
d.
Pola dan mekanisme antar lembaga/badan
e.
Manajemen organisasi
f.
Aspek rekruitmen personal pimpinan persyarikatan
dan amal usaha
g.
Kepemimpinan sebagai arus penggerak
2. Strategi
Sosial-Budaya
a.
Peran global Muhammadiyah dalam dimensi politik,
kemasyarakatan, kebangsaan, ilmu pengetahuan ekonomi dan pendidikan.
b.
Peran Muhammadiyah dalam dimensi keagamaan dan
kehidupan umat.
c.
Alternatif pola gerakan dalam dimensi tersebut.
3. Strategi perkaderan
a.
Pendidikan kader persyarikatan
b.
Pendidikan kader umat
c.
Pendidikan kader bangsa
Stategi perekrutan kader Muhammadiyah yaitu secara
internal dan eksternal. Secara internal yaitu melakukan pemantapan pemahaman
ideologi Muhammadiyah di kalangan teman-teman, saudara dan anggota keluarga
sendiri. Sedangkan secara eksternal yaitu melakukan perluasan-perluasan akses
ke wilayah-wilayah yang dianggap memiliki potensi sumber daya manusia. Khusus
rekrutmen ini, dilakukan dengan keterbukaan, transparan dan selektif.[5]
Muatan atau kurikulum dalam suatu perkaderan tidak lain adalam merupakan
program yang direncanakan secara otomatis untuk mencapai tujuan dari perkaderan
yang dimaksud. Melalui pembinaan Ideologis dan kepemimpinan, tujuan perkaderan
dalam Muhammadiyah adalah terbentuknya kader Muhammadiyah, sebagai kader
persyarikatan, kader ummat dan kader bangsa sesuai dengan misi Muhammadiyah.
Bahwa ada 6 jenis materi kurikulum inti yang dikembangkan dalam perkaderan
Muhammadiyah yaitu:
1. Hakekat Islam
2. Metodologi Pemahaman
Islam
3. Sejarah Gerakan
Pembharuan
4. Muhammadiyah sebagai
Gerakan Islam
5. Kapita Selekta
6. Strategi perjuangan
Muhammadiyah
Sistem
Perkaderan IMM
Perkaderan dalam IMM harus berjalan dengan baik sebab nadi dari Ikatan
terletak ditangan seorang kader. Sebab kelanjutan perjuangan kepemimpinan
selanjutnya yang akan menjalankan adalah para kader. Estafet kepemimpinan,
kepengurusan serta yang menjalankan sebuah roda organisasi yakni kader. Dalam
Nilai Dasar Ikatan poin kelima menerangkan bahwa Kader IMM merupakan inti
masyrakat utama, yang selalu menyebarkan cita-cita kemerdekaan, keliaan dan
kemaslahatan masyarakat sesuai dengan semangat pembebasan dan pencerahan yang
dilakukan Nabiyullah SAW.[6]
Arah perkaderan IMM bertujuan untuk menciptakan sumber daya manusia yang
memiliki kapasitas akademik yang memadai sesuai dengan perkembangan dan
kebutuhan zaman yang berakhlakul karimah dengan proyeksi sikap individual yang
madiri, bertanggung jawab dan memiliki komitmen serta kompetisi perjuangan
dakwah. Falsafah perkaderan IMM adalah mengembangkan nilai-nilai uswah,
pedagofi-kritis dan hikmah untuk mewujudkan gerakan IMM sesuai dengan
falsafahnya yakni IMM adalah gerakan intelektual.
Sasaran perkaderan IMM adalah mahasiswa, anggota, calon pimpinan, pimpinan
dan istruktur. Target perkaderan utama diproyeksikan untuk terbentuknya sumber
daya kader struktural dan fungsional yang profesional. Target perkaderan utama
dalah terinternalisasikan nilai-nilia perjuangna visi dan misi IMM sekaligus
terciptanya kader pimpinan yang memiliki kompetensi dan wawasan yang sesuai
dengan tingkatan kepemimpinan masing-masing. Sedangkan target perkaderan khusus
diproyeksikan pada terbentunya pengelola perkaderan yang progesional. Target
perkaderan khusus adalah meningkatnya kualitas sumber daya kader menurut minat,
bakan, profesi, keterampilan dan keahlian di bidang tertentu.[7]
Landasan perkaderan ada tiga landasan yaitu: landasan nilai atau etika
adalah landasan yang mengatur secara normatif dan mendasar seluruh pelaksanaan
kegiatan perkaderan IMM yaitu al-Qur’an dan as-sunnah yang secara operasional
dijabarkan dalam khittah perjuangan Muhammadiyah dan Matan Keyakinan dan
Cita-cita Hidup Muhammadiyah. Landasarna Hukum: pancasila, UUD 1945, UU No 8 th
1985 tentang keormasan. Landasan formal organisasi: keputusan PP Muhammadiyah
tentang Kaidah Ortom, Keputusan muktamar XII IMM di Bandar Lampung, Program
Kerja DPP IMM bidang kader.
Materi kurikulum yang termuat dalam perkaderan IMM dikembangkan da;am lima
kelompok materi yaitu:
1. Materi pokok Ideologi
2. Materi Pokok
keroganisasian/kepemimpinan
3. Materi pokok wawasan;
kapita selekta
4. Materi pokok terapan
5. Muatan lokal
Dari kelima
kelompok materi itu dikembangkan silabi untuk masing-masing komponen dan
jenjangn yang dibangun dengan pendekatan muatan Nasional dan muatan Lokal yang
dikemas secara ideal dan dinamis.
Komponen dan jenjang perkaderan dalam IMM terbagi menjadi:
1. komponen pra
perkaderan yaitu suatu komponen awal yang berfungsi untuk mengenalkan dan
memasyaraktakan IMM, sekaligus sebagai wahana rekruitmen anggota serta sebagai
persiapan untuk memasuki perkaderan Darul Arqom Dasar.
2. komponen perkaderan
utama yaitu komponen utama yang bersifat wajib dan merupakan komponen pokok
perkaderan IMM. Komponen ini bersifat mengikat dan secara struktural menjadi
prasyarat tertentu. Secara berjenjang, perkaderan utama terdiri dari tingkatan-tungkatan
yaitu pDarul Arqam Dasar (DAD), Darul Arqam Madya (DAM) dan Darul Arqam
Paripurna (DAP)
3. komponen perkaderan
khusus yaitu komponen perkaderan yang ditujukan dalam rangka mendukung komponen
utama dengan pendekatan khusus. Komponen ini dilaksanakan dalam rangka
meningkatkan kemampuan, keterampilan dan kecakpan khusus. Adapun tingkatannya
yaitu Latihan Instruktur Dasar (LID), Latihan Instruktur Madya (LIM) dan
Latihan Instruktur Paripurna (LIP).
4. kompenen perkaderan
pendukung yaitu komponen perkaderan yang dilaksanakan untuk mengingkaykan
potensiu kader sesuai minta, bakat, keterampilan, keahlian serta kemampuan
dalam rangka mendukung keberhasilan proses kaderisasi ikatan. Terdapat
perkaderan pendukung poko juga terdapat perkaderan pendukung tambahan.
Korelasi SPR,
SPM dan SPI
Sistem perkaderan pada masa Rasulullah, sistem perkaderan Muhammadiyah dan
sistem perkaderan IMM saling berhubungan. Secara filosofis sistem perkaderan
Ikatan merupakan penerjemahan perkaderan yang dilakukan Rasulullah. Hal
tersebut dapat dilihat dari nama perkaderan yaitu Darul Arqam. Dimana Darul
Arqam tersebut merupakan tempat awal dimana digunakan Rasulullah untuk
kaderisasi. darul Aqam diambil dari nama sahabat Rasulullah yaitu Arqam Ibn
Abil Arqam. Ditempat itu muncullah generasi awal Islam seperti Abu Bakar, Ali
Ibnu Abi Thalib, Siti Khadijah dan yang lainnya.
Perkaderan yang dilakukan Rasulullah yakni menanamkan nilai-nilai Islam
secara kaffah dan mengubah kesadran hingga timbul kesadaran al syaksiyah faal
fadli (hablum minallah dan hamblum ninanas).[8]
Hubungan dari ketiganya itu disebabkan nama perkaderan yang sama yakni
sama-sama menggunakan Darul Arqam. Darul Arqam saat Rasulullah sebagai awal
lahirnya generasi awal Islam. Darul Arqam pada perkaderan Muhammadiyah merupakan
bentuk perkaderan yang khas dan utama dalam kaderisasi Muhammadiyah yang
bertujuan membentuk cara berfikir dan sikap yang sama tentang Muhammadiyah
sebagai Gerakan Islam, Gerakan Tajdid, dan Gerakan Da’wah Islam Amar Ma’ruf
Nahi Munkar bagi setiap angota serta pimpinan persyarikatan.[9]
Darul Arqam di perkaderan IMM merupakan sebagai tempat internalisasi
nilai-nilai Ikatan dan berorientasi pada Ideologi Ikatan.
Perkaderan
Jantung Ikatan
Mengapa jantung? Sebab jantung adalah sumber kehidupan yang ada didiri
manusia. Jika jantung itu rusak, mati atau hilang. Maka manusia itu tak akan
bisa hidup, manusia itu mati. Sebab jantung merupakan pusat dari seluruh tubuh.
Begitupula IMM, perkaderan merupakan sumbu gerakan, tanpa adanya perkaderan
sebuah gerakan tampak seperti paguyuban kadangkala harus bubar, karena
ketiadaan regenerasi dan lenyapnya semangat ”kesukaan” atau hobi yang menyatu.[10]
Perkaderan sangatlah penting oleh sebab itu dalam membuat sebuah perkaderan
harus sesuai dengan Sistem Perkaderan Ikatan. Ketidakcocokan akan hanya membuat
perkaderan dikatakan gagal. Berdasarkan pengalaman responden hanya 70 persen
perkaderan yang sesuai dengan SPI yang 30 persen tidak sesuai dengan SPI. Hal
inilah yang menyebabkan banyak kader yang kurang mengerti IMM selulus DAD.
Meski sudah selama dua tahun menjadi anggota IMM.
Agar ikatan berjalan dengan lancar, perkaderan harus dijalankan sesuai
dengan Sistem Perkaderan Ikatan. Materi-materi yang disampaikan dan pemateri
harus benar-benar faham dengan materi. Perkaderan dalam IMM ada dua macam yakni formal
dan no-formal. Akan tetapi, sering dijumpai seakan-akan dengan adanya
perkaderan formal maka selesailah proses perkaderan. Padahal penentu yang lebih
besar terhadap proses perkaderan adalah pasca perkaderan (follow up).
Kader sebagai penerus estafet kepemimpinan. Tanpa adanya kader maka
organisasi itu akan mandek, stagnan, tak bisa berjalan. Sebab tidak ada yang
menjalankannya. Siapa yang akan menjalankan jika tidak ada kader? Apa tetap
orang yang sama selama bertahun-tahun. Itu tidak mungkin, sebab manusia akan
mati. Oleh sebab itu diperlukannya kader bagi ikatan.
Pak Din Syamsudin dalam buku karanganny Muhammadiyah untuk Semua, beliau
menuliskan bahwa Muhammadiyah dapat melewati usia satu abad ini karena mampu
melahirkan kader-kader terbaik. Yaitu, kader yang handal yang mampu meneruskan
perjuangan para perintis dan pendahulunya. Saya menyaksikan sendiri bagaimana
ranting, cabang, derah dan wilayah dapat bertahan, tumbuh dan maju karena
memiliki stok kader persyarikatan yang handal. Dibanyak tempat, generasi
pertama perintis persyarikatan amal usaha muhammadiyah mampu menghasilkan
generasi kedua penerus perjuangan muhammadiyah. Malahan ada yang mampu
mempertahankan jalur kaderisasi ini sampai ke generasi ketiga dan keempat. Yang
paling banyak terjadi sekarang, usia kaderisasi di persyarikatan di ranting
atau cabang sudah berlangsung dua generasi dan tiga generasi.
Salah satu jalur yang paling strategis adalah jalur keluarga. Keluarga
perintis muhammadiyah di sebuah tempat mampu melahirkan generasi penerusnya,
demikian seterusnya. Ini biasanya terjadi karena generasi perintis muhammadiyah
ini memang betul-betuk kader militan, handal, saleh dan memiliki daya juang
tinggi serta memiliki visi yang jauh ke depan. Dalam bahasa agama, mereka yang
demikian, selain selalu mencari ridla Allah swt, juga menyadari isi dan makna
sebuah hadits yang menyatakan bahwa kalau seorang anak adam meninggal, maka
terputuslah amalnya kecuali mereka yang memberikan shadaqah jariyah, memberikan
ilmu yang bermanfaat dan melahirkan anak-anak shaleh yang mendoakannya.[11]
Kesimpulan
Perkaderan amatlah penting untuk kelanjutan sebuah organisasi. Oleh sebab
itulah dibuatkan prosedur dalam mengkader yakni Sistem Perkaderan. Agar
perkaderan itu tidak melenceng maka dalam pengelolaan perkaderan harus sesuai
dengan Sistem Perkaderan yang didalamnya sudah sangat lengkap apa kurikulum dan
strategi yang digunakan. Karena kader adalah pemegang estafet selanjutnya
setelah orang sebelumnya dimisioner. Misalnya, angkatan 17 dimisioner maka yang
melanjutkan kepemimpinan adalah angkatan 18 dan angkatan 19. Jika tak ada
kader, maka organisasi itu akan mati.
Daftar Pustaka
Ahmadi,
Markus dan Amminuddin Anwar. 2014. Genealogi Kaum Merah: Pemikiran dan Gerakan. Yogyakarta: Rangkang Education.
DPP IMM.
2011. Sistem Perkaderan Ikatan. Yogyakarta: DPP IMM.
Pimpinan Pusat Muhammadiyah. 1990. Sistem Perkaderan Muhammadiyah. Yogyakarta:
Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Badan Pendidikan Kader.
Syamsudin,
Din. 2014. Muhammadiyah untuk Semua. Yogyakarta: suara muhammadiyah.
http://aanborneo.blogspot.co.id/2012/07/pengkaderan-muhammadiyah.html?m=1 diakses pada tanggal 08 November
2015.
http://m.eramuslim.com/suara-kita/pemuda-mahasiswa/pradipta-suarsyaf-mahasiswa-fmipa-itb-kembalik-ke-sistem-kaderisasi-rasulullah.htm. diakses pada tanggal 8 November
2015.
[1] http://m.eramuslim.com/suara-kita/pemuda-mahasiswa/pradipta-suarsyaf-mahasiswa-fmipa-itb-kembalik-ke-sistem-kaderisasi-rasulullah.htm. diakses pada tanggal 8 November
2015.
[2] Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sistem
Perkaderan Muhammadiyah. (Yogyakarta: Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Badan
Pendidikan Kader. 1990). 1.
[3] Ibid. 9.
[4] Ibid. 13.
[5] http://aanborneo.blogspot.co.id/2012/07/pengkaderan-muhammadiyah.html?m=1 diakses pada tanggal 08 November 2015.
[6]
Markus Ahmadi dan Amminuddin Anwar. Genealogi Kaum Merah: Pemikiran dan Gerakan.
(Yogyakarta: Rangkang Education. 2014). 100.
[7] DPP IMM. Sistem Perkaderan Ikatan.
(Yogyakarta: DPP IMM. 2011). 2.
[8] DPP IMM. Sistem Perkaderan
Ikatan. (Yogyakarta: DPP IMM. 2011). IX.
[9] Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sistem
Perkaderan Muhammadiyah. (Yogyakarta: Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Badan
Pendidikan Kader. 1990). 20.
[10]Markus Ahmadi dan Amminuddin Anwar. Genealogi Kaum Merah: Pemikiran dan Gerakan.
(Yogyakarta: Rangkang Education. 2014).
149.
[11] Din
Syamsudin. Muhammadiyah untuk Semua. (Yogyakarta:
suara muhammadiyah. 2014). 10.
Langganan:
Postingan (Atom)



