Minggu, 18 Februari 2018

My Husband is My Teacher and CEO part 4








Tap
Tap
Tap, langkah kaki yang menuruni anak tangga dengan buru-buru menghampiri kami. Aku melihat seorang gadis yang berlari tanpa menggunakan alas kaki. Ia langsung membuka pintu rumah utamanya dan berputar-putar dihalaman rumahnya, sepertinya ia tengah mencari sesuatu. Aku dan orang-orang di ruang tamu hanya menyaksikan aksinya dengan keheranan. Bahkan gadis itu tidak menyapa kami, hingga Kendy ikut keluar menyusulnya. Kendy mengajak adiknya masuk dengan aksi yang masih mencari sesuatu. Hingga terdengar suara teguran yang berasal dari om Anggara.
“Key… kamu cari apa nak? Sampai-sampai lari-larian gitu?”
“Sepatu aku ayah,,, haduh dimana sih….???” Jawab Keysha yang masih sibuk lari sana-sini mencari keberadaan sepatunya.
“Bukannya tadi kamu pakai yah dek… kog kamu malah nyari disini? Aneh deh..” tanya Kyan. Aku hanya bisa menyaksikan ini. Bahkan gadis ini belum menyadari akan kehadiranku disini.
“Ish…” Keysha mengacak rambutnya frustasi serta mengusap wajahnya kasar. Sesekali ia mencibikkan bibirnya dan mengehela nafasnya kasar.
“Keysha kand bisa pakai sepatu yang lainnya,, sepatu Key kand banyak sayang..” tante Michelle member pengertian kepada putrinya. Aku tersenyum tipis melihat kekesalan yang ditunjukkan oleh Keysha. Ia menghentakkan kakinya di lantai dan mulai berjalan naik ke lantai 2 rumahnya. Seperti anak kecil yang tidak mendapatkan apa yang diinginkan.
Kami kembali duduk setelah Keysha beranjak menuju kamarnya. Aku mengambil duduk di samping kakakku yang cantik ini. Aku juga menyerahkan boneka yang sebelumnya kubeli kepada papa.
“Maafin Keysha anakku ya Al, kelakuannya kayak gitu. Dia akan heboh sendiri bila yang dimilikinya hilang darinya. Apalagi itu sepatu barunya dan baru dipakai saat ini.” Jelas om Anggara dengan tertawa keras mengingat kelakukan Keysha beberapa menit yang lalu.
“Tapi heran deh yah.. tadi sepatu itu kand Key pakai pas pamit mau ke kamar, eh kog balik-balik dia udah gak pakai sepatu.” Ucap Kendy dengan keheranan. Aku menolehkan kepalaku melihat ke lantai dua untuk memperhatikan rumah ini. Besar seperti rumah papa yang ada di Bandung. Hingga sosok Keysha berjalan mendekat kearah kami mengalihkan pandanganku sebelumnya. Ternyata ia sudah berganti pakaian dari sebelumnya, sekarang jauh lebih santai dengan memakai rok selutut dengan kaos lengan panjang dari sebelumnya yang memakai dress selutut warna merah tanpa lengan. Namun penampilannya tetap cantik dengan rambut yang digerai menampilkan rambut hitam pekatnya.
Aku sedikit tersentak dari lamunanku, ketika seseorang memanggil namaku dengan terkejutnya. “Pak Bagas?” panggil Keysha terhadapku.
“Hai,-“ jawabku singkat.
“Bapak kog bisa ada disini? Sejak kapan?” Keysha kembali mengeluarkan pertanyaannya. Ia mulai duduk di antara kedua kakaknya.
“Baru nyadar lo dek,,, sejak lo sibuk nyari sepatu lo yang tiba-tiba ngilang.. oh ya kog bisa sepatu itu bukannya tadi kamu pakai ya pas kamu pergi kekamar, kog bisa ngilang. Emang sepatunya bisa lari sendiri apa?” jawab Kendy.
“Ish lo tu kak,,, tadi itu sangking buru-burunya aku ngelepas sepatunya jadi aku lempar deh gak tau kemana, kayaknya jatuh ke halaman depan deh,, tapi pas gue nyari-nyari kog gak ada yah kak.” Jawah Keysha dengan menampilkan gigi putihnya. Oh jadi sepatu yang dengan manisnya menghampiri kepalaku itu sepatu Keysha. Gadis ini kenapa tingkahnya di rumah beda sekali dengan ketika di sekolah. Disini ia menjadi gadis yang manja dan ceroboh. Sedangkan ketika di sekolah ia menjadi gadis yang berwibawa, pintar bahkan bertanggungjawab.
Aku mencoba mengeluarkan sepatu itu dari bag paper yang sedari tadi aku bawa. Kak Berliana menegurku ketika tanganku memegang sepatu flat bewarna merah maroon. “Sepatu siapa itu dek?” tanya kak Berliana dengan sedikit berbisik.
“Gak tau aku kak, tadi pas dihalaman depan gak sengaja sepatu ini jatuh dan mengenai kepalaku. Karena gak ada orang pas disana, jadi aku masukkan aja kesini.” Jawabku dengan berbisik juga.
“Sepatunya sih Keysha deh kayaknya. Balikin gih?” Kak Berliana memintaku untuk mengembalikan sepatu ini. Aku segera mengangkat tanganku yang memegang sepatu itu.
“Apa ini sepatu yang kamu cari Key?” aku mengeluarkan suaraku dengan menunjukkan sepatu yang kupegang. Keysha sedikit terkejut setelah memusatkan pandangannya kearah tanganku. Keysha berdiri dan langsung menyambar sepatunya kemudian ia kembali duduk di tempatnya semula.
“Kog bisa sama bapak?” tanya Keysha yang sudah meletakkan sepatunya di belakang kakinya.
“Tadi pas saya datang kemari, tidak sengaja ada sepatu jatuh yang mengenai kepala saya. Karena tidak ada orang disana, jadi saya membawanya masuk kemari.” Jawabku. Keysha mungut-mungut paham mendengarkan jawabanku.
End Bagas Pov.

Dua keluarga ini sedang menikmati hidangan yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Mereka bersama-sama makan malam, meski waktu telah menunjukkan pukul 9 malam. Ini waktu makan malam yang terlambat karena biasanya mereka makan malam setelah sholat isya’ sekitar jam 7 atau set 8 malam.
“Oh ya Key,, ini Bagas anak om Ali, tadi kalian belum sempat kenalan kand?” Anggara mengenalkan Bagas kepada Keysha di sela-sela makan makanan penutup.
“Udah kenal kog yah, pak Bagas kand guru matematika Key dan wali kelas Key.” Jawab Keysha yang masih asyik memakan pudding dan black forest buatan Michelle.
“Lebih baik ngobrolnya dilanjut di ruang keluarga aja deh yah, kand lebih santai. Kalau sudah selesai kita beranjak dari sini, biar mejanya bisa dibersihkan sama bi Surti.” Usul Michelle. Dua keluarga itu beranjak dari ruang makan menuju ke ruang keluarga sesuai usulan dari Michelle.
Di ruang keluarga terdapat dua sofa panjang dan 2 sofa pendek menghadap sebuah televisi besar. Keysha, Kyan, Kendy dan Michelle duduk di sofa panjang. Bagas, Berliana dan Prilly duduk di sofa seberangnya. Sedangkan Ali dan Anggara duduk di 2 sofa yang memuat untuk 1 orang. Perbincangan yang sempat tertunda kini mereka mulai lagi yang diawali oleh Anggara.
“Jangan panggil pak juga dong Key ke Bagasnya, Bagas kand sekarang gak jadi guru.” Usul Anggara kepada Keysha.
“Sama aja ayah,, dimana-mana kalau guru meski gak di sekolah yah tetap harus dipanggil bapak.. nanti kalau aku langsung manggil nama kan gak sopan. Meski pak Bagas seumuran dengan kak Kyan.” Jawab keysha. “Iya kand pak Bagas?” tanya Keysha kepada Bagas yang sedari tadi tidak melepas tatapannya melihat gadis itu berbicara. Bagas menganggukkan kepalanya.
“Tapi, tetap saja kalau kamu di luar sekolah manggilnya gak boleh pake ‘pak’ Key, harus seperti kamu manggil Kyan dan Kendy dengan sebutan kak.” Anggara kekeh meminta Keysha untuk memanggil Bagas tanpa embel-embel ‘pak’.
“Aduh ayah… kenapa harus ganti-ganti sih.. gak enak yah? Udah kebiasaan manggilnya gitu.” Tolak Keysha.
“Gak ada penolakan, ayah harap kamu mau menuruti permintaan ayah. Ayo sekarang kamu panggil Bagas dengan kak Bagas. Cepat…!” perintah Anggara. Bila Anggara sudah memaksa mau tak mau siapapun anggota keluarganya harus mengikuti titahnya.
Keysha menghela nafasnya kasar, mau tak mau ia harus menuruti perkataan ayahnya. “Iya..iya… pak..eh kak.. kak Bagas.” Bagas menyunggingkan senyumnya tipis mendengar Keysha memanggilnya dengan sebutan kakak. “Kenapa sih ayah maksa banget minta aku manggil Pak Bagas dengan kak Bagas?” tanya Keysha kepada ayahnya.
“Karena kalian akan dijodohkan.” Jawab Anggara tanpa sadar. Sontak saja jawabannya itu membuat terkejut mereka yang ada disana. Meski Ali, Prilly dan Michelle telah mengetahui rencana pertemuan ini sebelumnya, tapi ia tak menyangka jika Anggara secepat ini membocorkannya.
“Apa?” teriakan dari Keysha mengalihkan terkejutannya mereka dari jawaban Anggara. Wajahnya yang terlihat marah, bahkan jari-jari tangannya saling mengepal dengan kerasnya dan bisa saja itu melukai tangannya dengan kukunya yang panjang. Kendy yang melihat adiknya dibakar amarah meraih pundak Keysha dan mengelusnya memberikan ketenangan. Keysha mengatur nafasnya menahan amarah yang mulai menguasai dirinya.
“Ayah mau menjodohkan aku?” tanya Keysha kepada Anggara mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia tak salah mendengar perkataan ayahnya.
Anggara mengangguk pasti menjawab pertanyaan putrinya. Melihat reaksi yang ditunjukkan ayahnya, Keysha langsung beranjak pergi dari ruang keluarga dengan berlari kencang. Keysha meninggalkan mereka tanpa sepatah kata sebab ia tengah diselimuti amarah dan kekesalan.
“Ayah tega, kenapa ayah lakuian ini?” tanya Kendy yang juga mempertanyakan keputusan ayahnya. Kendy tak sanggup melihat Keysha yang seperti ini. Sebab pasalnya adiknya tak pernah menanggapi masalah dengan amarah. Kendy beranjak dari tempat duduknya mencoba mengejar Keysha.
“Kendy! Dengarkan penjelasan ayah dulu dek.” Teriak Kyan. Kyan sebenarnya juga kecewa  dengan kalimat yang diucapkan ayahnya sebelumnya. Tapi, ia juga tak bisa bila harus bersikap seperti Kendy. Kyan percaya ayahnya pasti punya alasan dibalik semua ini.
###

Keysha Pov.

Karena kalian akan dijodohkan.” Kata-kata itu terus terngiang di telingaku. Aku sekarang sedang berlari menuju rooftop untuk menenangkan fikiranku. Mengapa ayah tega melakukan ini denganku? Mengapa ayah mau menjodohkanku dengan pak Bagas? Aku tak bisa berfikir lagi tentang keputusan yang ayah berikan. Aku sungguh.. sungguh kecewa apa yang diputuskan oleh ayah.

“huft..huft..huft…. kamu disini dek?” kudengar suara kak Kendy sambil mengatur nafasnya yang tak beraturan berada dibelakangku. Aku langsung membalikkan tubuhku dan berlari menubruk dada bidangnya. Aku butuh sandaran, aku butuh pelukan, dan yang mampu memberikan itu semua hanyalah kak Kendy. Aku memeluknya erat dengan menumpahkan air mataku yang sedari tadi kutahan. Aku menangis di dadanya, dan kak Kendy juga memelukku dengan erat. Seakan ingin memberikan kekuatan kepadaku.

“Hiks..hiks..hiks.. kak,, kenapa papa ngelakuin ini kepadaku?” tanyaku kepada kak Kendy. Kak Kendy diam cukup lama, ia tak segera menjawab pertanyaanku.

“Kita duduk sana yah dek?” ajak kak Kendy yang mencoba mengalihkan pertanyaanku. Aku tau bahkan kak Kendypun tak mengetahui hal ini. Ini terlihat ketika ia kebingungan mencari jawaban yang akan diberikan kepadaku.

“Kak… jawab aku!” aku melepaskan pelukannya dan menggoyangkan tubuhnya agar kak Kendy mau segera menjawab pertanyaanku. Lagi-lagi kak Kendy mengalihkan tatapannya lurus kedepan, sekali lagi aku melihat bahwa ia mencari-cari jawabannya. Aku menghela nafas kasar, sebab kedatangan kak Kendy tidaklah membantuku. Aku menguap menghilangkan rasa kantukku, ditambah lagi kepalaku tiba-tiba pusing.

“Tidur disini dek.” Kak Kendy menawarkan pahanya untuk aku tidur disana. Aku mulai merebahkan diriku dan meletakkan kepalaku di pangkuan kak Kendy. Kak Kendy mengelus kepalaku perlahan memberikan kenyamanan agar aku bisa tertidur. Aku memejamkan mataku mencoba menghilangkan rasa pusing yang semakin menjadi apalagi aku harus menangis menghilangkan emosi didiriku.

“Kakak sayang kamu dek, jangan kayak gini lagi yah… kakak gak mau kamu nangis apalagi sampe marah seperti ini.” Kudengar kak Kendy berbicara lirih sambil terus mengusap puncuk kepalaku. Tanpa ia tau, aku sedikit mendengar isakannya. Kak Kendy ikut menangis.

End Keysha Pov.

Ya Allah… aku sebenarnya kecewa dengan keputusan ayah yang akan menjodohkan adikku dengan pak Bagas. Aku tak mengerti mengapa ini semua terjadi. Aku bahkan tak tega menyaksikan ia begitu terpukul. Kakak sayang kamu dek, ayah pasti melakukan ini semua demi kebaikan kamu. Dan kakak harap kamu tak melakukan hal yang aneh-aneh untuk melawan keputusan ayah. Kakak akan selalu ada untuk kamu dek, karena kamu adalah adik kesayangan kakak.” Kendy berbicara di dalam hati. Ia menatap adiknya dengan sendu dan tanpa terasa air matanya ikut menangis. Kendy tau bahwa Keysha amat jarang emosi dan ia adalah gadis yang sangat bisa mengendalikan amarahnya. Namun, apabila sudah seperti ini, pasti ini sangat menyakitkan bagi Keysha.

Dilain tempat masih di ruang keluarga, setelah kepergian Keysha yang disusul dengan Kendy. Kedua orang tua dengan anaknya masing-masing  tetap bungkam tak mengeluarkan sepatah katapun. Hingga terdengar Ali mengeluarkan suaranya. “Apa yang kamu katakana itu terlalu cepat Anggara.”

Anggara menoleh ke Ali dengan menghela nafasnya, “Aku keceplosan bilang seperti itu. Tapi kamu tenang saja Keysha pasti akan memahami ini.”

“Apa ayah yakin?” ucap Kyan yang tak setuju dengan jawaban ayahnya bila Keysha akan menerima ini semua. Kyan meragukan ucapan ayahnya sebab reaksi yang ditunjukkan Keysha beberapa jam yang lalu itu sudah membuktikan bahwa bisa saja Keysha menolaknya.

Mereka yang ada di ruang tamu menganggukkan kepala mengerti maksud dari pertanyaan Kyan. Kecuali Anggara yang yakin bahwa keputusannya itu akan di terima oleh putri kesayangannya. “Ayah tetap yakin bahwa Keysha putri kesayangan ayah tak akan mengecewakan ayahnya.” Anggara tau bahwa Keysha bukanlah tipikal anak yang memberontak dan membangkan apa yang diperintahkan ayahnya.

Keysha merupakan anak yang menurut dengan ayahnya, apalagi Anggara selalu meminta pendapat darinya terlebih dahulu. Akan tetapi, berbeda dengan saat ini bahkan Anggara tak pernah menyinggung masalah ini sebelumnya. Entah apa yang difikirkan oleh ayah dari ketiga anaknya itu. “Maafkan ayah nak, bukannya ayah tidak meminta pendapatmu terlebih dahulu. Bila ayah meminta pendapatmu bisa saja kamu menolak ini semua. Ayah ingin melakukan yang terbaik untukmu. Ayah sangat menyayangimu.” Ucap Anggara di dalam hati.

“Sudah sebaiknya kita istirahat, hari sudah larut dan lebih baik ini dibicarakan lagi besok pagi.” Ucap Anggara kepada seluruh orang yang sedang berkumpul di ruang keluarga. Mereka mengangguk setuju dengan ucapan Anggara. “Ali dan prilly kalian tidur di kamar tamu, sedangkan untuk Berliana dan Bagas kalian juga tidur di kamar sebelah kanan dan kiri ruang tamu. Kyan tolong antarkan mereka.”

Kyan mengangguk dan beranjak dari tempat duduknya. “Mari om, tante, Berlian dan Bagas.” Ajak Kyan kepada keluarga Ali. Ia menunjukkan kamar yang sudah dipersiapkan oleh keluarganya. “Silahkan om tante.” Kyan mempersilahkan kepada Ali dan Prilly untuk memasuki kamar mereka. “Bagas, Berlian kalian juga silahkan masuk. Selamat istirahat.”

Setelah mengantar keluarga Ali. Kyan mencari keberadaan kedua adiknya, ia mengelilingi seluruh rumahnya. Kyan teringat akan satu tempat yang didatangi oleh adik perempuannya bila sedang terkena masalah yaitu di ‘rooftop’. Kyan segera berlari menuju rooftop dan ia menemukan keberadaan Keysha dan Kendy. Kyan berjalan mendekati keduanya, ia memegang bahu adik laki-lakinya. Kendy menoleh ketika ada tangan yang memegangnya.

“Kak Kyan?” tanya Kendy yang masih setia mengelus rambut adiknya yang sedang tertidur dengan nyenyaknya.

“Dia tidur Ken?” Kendy mengangguk menjawab pertanyaan kakaknya. Kyan mengambil duduk di samping Kendy dan ikut mengelus kepala Keysha. “Lebih baik kita bawa dia ke kamar, kasian bila tetap disini. Bisa masuk angin karena udaranya dingin banget.” Usul Kyan kepada Kendy. Kyan mencoba menggendong Keysha yang tidur di paha Kendy.

“Aku juga nungguin kakak buat angkat Key,, kakiku dah kram kak ditidurin sama ni bocah.” Ucap Kendy mengikuti langkak kaki kakaknya yang menuruni tangga menuju kamar Keysha. Kendy menggerakkan tangan dan kakinya mencoba mengusir rasa capek yang menyerang tubuhnya.

Kyan dan Kendy akhirnya sudah berhasil membawa Keysha ke kamarnya. Dan mereka menuju ke kamar masing-masing untuk mengistirahkan badan dan fikirannya. Sebab besok mereka harus kembali keaktifitas semula.

Pagi harinya.

“Bi…bi Surti….” Teriak Michelle di meja makan yang sedang menungkan susu untuk Kyan, Kendy, Berlian dan Bagas. Sedangkan Prilly ikut membantu dengan membuatkan kopi untuk suaminya dan Anggara.

“Iya nyonya, ada apa?” tanya bi Surti dengan nafas yang tersenggal-senggal akibat lari dari ruang cucian menuju ke ruang makan setelah mendengar teriakan dari Michelle.

“Bibi tolong bangunin non Keysha ya… ia kand harus sekolah lagipula ini juga sudah jam 7. Tumben kalo dia bangun telat.” Perintah Michelle kepada bi Surti.

“Baik nyonya.” Jawab Bi Surti. Bi Surti segera menuju lantai 2 ke kamar putri majikannya. Bi Surti menggedor-gedor pintu kamar milik Keysha. Namun tak ada jawaban dari dalam. Bi Surti memegang handel pintu mencoba membukanya, tidak di kunci. Bi Surti memasuki kamar milik Keysha dan mendekati ranjang yang ada di dalamnya.

Bi Surti menggoyangkan gundukan di balik selimut berkali-kali, tapi tetap tidak ada pergerakan balasan yang ditunjukkan. Karena bi Surti merasa penasaran, ia menyingkap selimut itu. Namun, apa yang didapatkan yakni hanya guling dan bantal. “Non..non Keysha?” panggil bi Surti mengelilingi kamar milik nonanya. Di kamar mandi Keysha juga tidak ditemukan. Bi surti yang panik langsung berlari keluar menuju ruang makan dimana majikannya berada.

“Nyonya.. tuan… den Kendy.. den Kyan….” Teriak bi Surti ketika menuruni anak tangga.

“Kenapa bi?” tanya Kyan.

“Bibi kenapa kog teriak-teriak seperti orang panik?” tanya Kendy. Kendy menengok kesana-kemari mencari keberadaan adiknya. “Loh Keysha mana bi?” tanya Kendy lagi yang tidak menemukan sosok adiknya yang seharusnya sudah ada di hadapannya.

“Non..non..non Keysha tuan.” Ucap bi Surti dengan nada ketakutan.

“Ada apa dengan Keysha bi? Bibi tenang dulu atur nafasnya baru bicara.” Jawab Anggara.

Bi Surti mengatur nafasnya seperti ucapan tuannya. Setelah agak tenang bi Surti melanjutkan ucapannya,” Non Keysha tuan, non Key…sha gak ada di kamarnya. Kamarnya kosong, pas tadi saya masuk mencoba membangunkannya, saya kira yang ada di balik selimut adalah non Keysha namun itu hanya bantal dan guling. Sedangkan non Keysha gak ada di kamarnya, di kamar mandi juga tidak ada tuan.”

Sontak mereka menghentikan aktifitas sarapannya. Kendy setelah mendengar penjelasan dari bi Surti langsung berlari menuju kamar adiknya. Mereka semua mengikuti Kendy menuju kamar milik Keysha. Terlihat wajah cemas mereka mendengar ungkapan bi Surti. Kendy langsung membuka lemari pakaian milik Keysha.

“Kosong?” Kendy sontak terkejut melihat isi lemari milik adiknya. Setengah lemari gantungan kosong dan satu laci milik Keysha juga kosong. Koper warna pink yang biasanya terletak manis di almari paling bawah sekarang tidak ada disana. Beberapa alat sekolahnyapun juga tidak ada di tempatnya.

“Kyan coba telpon hp adek kamu?” perintah Anggara. Kyan langsung mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi nomor adiknya. Tak ada jawaban dari seberang sana. Berkali-kali ia mencoba namun tetap sama yakni tak ada jawaban.

“Gak ada jawaban pa…” ucap Kyan.

###

“Ya udah Kendy dan Bagas kalian berangkat saja dulu ke sekolah dan coba cari Keysha tanyakan ke sahabat-sahabatnya. Untuk Kyan kamu berangkat juga saja dan minta tolong ke teman-teman kamu yang mengenal Keysha mungkin saja tau keberadaan adikmu. Aku dan Ali akan pergi ke kantor dan di sela-sela pekerjaan akan kami gunakan untuk mencari keberadaan anak itu.” Anggara berkata sambil keluar dari kamar Keysha. Anggara menoleh ke istrinya dan mengeluarkan suaranya, “dan kamu juga coba tanyakan keberadaan Keysha kepada teman-temannya. Dan bila semuanya sudah ada kabar segera di beritahukan kepada kita semua.” Anggota keluarga itu mengganguk patuh akan ucapan Anggara.

Jam dinding menunjukkan pukul 7 tepat, mau tak mau mereka harus melanjutkan segala aktifitas yang sempat tertunda. Kendy dan Bagas dalam satu mobil menuju sekolah, Kyan menggunakan mobilnya sendiri untuk menuju ke kantornya, sedangkan Anggara dan Ali juga menuju kantor Anggara. Sedangkan para perempuan sibuk dengan dunianya sendiri.

Sesampainya di sekolah Kendy langsung menuju ke kelas adik kesayangannya. Dengan terburu-buru ia berlari tanpa memperdulikan peraturan bahwa dilarang berlari di lorong-lorong menuju kelas. Dengan nafas yang tersenggal-senggal ia langsung saja memasuki ruangan kelas dimana adiknya belajar. Semua siswa merasa terheran-heran sebab ada cowok terkeren di sekolah ini yang mendatangi kelas mereka berkali-kali, dan pasalnya biasanya Kendy akan mengunjungi kelas ini apabila Keysha ada disini. Melainkan saat ini Keysha tidak hadir di sekolah. Dimanakan ia?

“Assa..heh…heh..lamu’alaikum pak?” salam Kendy kepada guru yang mengajar di kelas Keysha.

“Kamu kenapa masuk kelas ini Kendy, bukannya kelas kamu di lantai setelah ini?” tanya guru yang sedang mengajar. Kendy berjalan mendekati guru tersebut dan sedikit membisikkan ucapannya.

“Saya kesini mencari adik saya pak, karena tadi ia lupa membawa bekal makanannya.” Bisik Kensy dengan sedikit berbohong bila ia mencari adiknya karena lupa membawa bekal bukan karena Keysha kabur dari rumah.

“Sejak saya masuk kesini, saya juga belum melihat Keysha, mungkin saja ia masih berada di lain tempat dan saya juga belum mendapat kabar apa Keysha hari ini masuk atau tidak.” Jawab pak guru itu. Kendy mengangguk sambil melihat dimana biasanya Keysha duduk di samping Ashila.

“Ya sudah pak saya pamit, terima kasih atas waktunya dan mohon maaf telah mengganggu waktu belajarnya.” Kendy beranjak keluar dari kelas adiknya dan berjalan menuju ke kelasnya sendiri.

Sepeninggal Kendy dari kelas XI IPA 2, Ashila langsung menoleh kearah Raka dan mulai berbisik, “Kog kak Kendy kesini Rak? Keysha juga kenapa jam segini gak datang-datang? Dan tumben sekali jika gak masuk tuh anak gak ngabarin kita.” Raka yang diajak bicara hanya mengidikkan bahu tak mengerti.

Dilain tempat, Bagas tengah berada di ruang informasi mencari tau apa Keysha memberikan pesan sesuatu. Bagas mulai mengintograsi staf karyawan yang berada di ruangan itu. “Mbak, apa Keysha hari ini masuk sekolah?”

“Tidak pak, mbak Keysha hari ini tidak menghadiri sekolah.” Jawab Karyawan itu.

“Apa ada kabar kemana anak itu tidak masuk sekolah hari ini?”

“Tidak ada keterangan yang menjelaskan alasan mengapa mbak Keysha tak masuk sekolah. Mungkin mbak Keysha ada urusan lain pak yang mengharuskannya untuk ijin tidak memasuki sekolah. Namun dalam daftar hadir saya akan menuliskan ‘alpha’ karena memang mbak Keysha tidak mengkonfirmasikan ketidakhadirannya.”

“Baik mbak, terima kasih atas informasinya.” Bagas berjalan berlalu meninggalkan ruang informasi dan segera menuju ke ruangan miliknya untuk mempersiapkan bahan ajarnya. Dan perjalanan menuju ke ruangannya, ia mulai berfikir mengingat kejadian kemaren malam disaat Keysha merasa kecewa dengan keputusan yang diberikan oleh Anggara. “Apa ini gara-gara perjodohan ini? Kamu pergi dari rumah? Kamu kemana Key? Maafkan aku bila akibat keputusan itu kamu merasa kecewa dan marah. Tapi jujur saja aku senang mengetahui bahwa kedua orang tua kita menginginkan bahwa kita bersatu. Entah apa yang terjadi denganku, mengapa saat pertama kali melihatmu aku sudah jatuh hati kepadamu. Bahkan saat ini aku merasa gelisah karena tak ada kabar satupun tentang kamu.” Tanpa terasa Bagas telah berada di ruangan kebesarannya. Saat melihat ke luar ruangannya, Bagas melihat sosok Keysha berjalan melewati ruangannya. Ia segera beranjak untuk memastikan apa yang telah dilihatnya itu nyata atau hayalannya saja karena ia tengah dilanda rasa rindu yang mendalam.

Di depan pintu ruangannya, Bagas menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan sosok Keysha yang sempat melintas di tempat ia berdiri saat ini. Namun yang ia dapatkan hanyalah kosong, tak ada seorangpun disana. “Apa aku hanya menghayal saja bahwa kamu aka nada disini Key?” Bagas berkata dalam hatinya. Selama lima menit Bagas tetap setia berdiri di depan pintu ruangannya, namun selama itu pula tak ada kehadiran sosok Keysha bahkan jalan itu juga tak ada yang melewati. Hal ini dikarenakan suasana pembelajaran di kelas masih berlangsung.

Bunyi notifikasi pesan whatsapp mengakhiri kegiatan berdirinya di depan pintu. Bagas memasuki ruangannya untuk melihat siapa yang mengiriminya pesan.

From: Kyan
Bro, dah dapat informasi soal Keysha?
Bagas langsung mengirim pesan balasan untuk Kyan. Belum, Keysha gak masuk sekolah dan gak ada alasannya kalau dia gak masuk. Itu pesan balasan untuk Kyan dari Bagas. Bahkan sekarang sudah dibuatkan sebuah grup yang beranggotakan keluarga Anggara dan Ali. Grup itu diberi nama ‘Misi Pencarian Keysha’. Bagas dimasukkan oleh papanya kedalam grup itu bahkan sekarang percakapan sudah mencapai lebih dari 10 chat.

+6285768999xxx (Kyan Marcelino)
Grup apa lagi ini?

+6288345987xxx (Anggara)
Grup mencari adikmu yang kabur dari rumah

+6285768999xxx (Kyan Marcelino)
Key gak ada di kelasnya pa…..

+6285666473xxx (Bunda Ichel)
Kendy, Kyan terus cari adik kamu nak. Bunda gak mau dia kenapa2.. huhuhu…

+6288345987xxx (Anggara)
Kamu jangan khawatir sayang, kita pasti akan menemukan Keysha.

+6287666545xxx (Ali)
Iya kamu tenang saja, aku akan bantu mencari Keysha juga.

+6288345987xxx (Anggara)
Bagas dimana bagas? Kenapa anak itu belum ada kabar mengenai Keysha?

+6285768999xxx (Kyan Marcelino)
Mungkin bagas masih mengajar di kelas yah…

+6285768999xxx (Kyan Marcelino)
Aku tadi sempat tanya ke sahabatnya Keysha ternyata mereka juga tak tau dimana anak itu berada. Bahkan baru kali ini ia tak masuk sekolah tanpa kabar apapun.

+6285666473xxx (Bunda Ichel)
Keysha kamu dimana sayang? Bunda khawatir sama kamu… Huhuhu…

+6288767543xxx (Prilly)
Kamu jangan khawatir chel pasti Key baik-baik saja.

Maaf bagas baru bisa gabung, tadi bagas dah tanya ke ruang informasi. Namun Keysha gak ada kabar sama sekali. Tapi tadi pas diruangan aku gak sengaja liat dia jalan melewati ruanganku. Aku pikir itu dia namun pas dipastikan ternyata tidak ada orang sama sekali. Kalian tenang saja aku akan terus mencarinya.

+6288345987xxx (Anggara)
Terima kasih bagas sudah mau membantu om dan keluarga. Dan kalian terus menguhubungi Keysha sampai ia menjawab panggilan dari kalian semua.
Iya om sama2. Itu juga menjadi kewajiban aku.

+6285768999xxx (Kyan Marcelino)
 Iya yah siap… Cieee… calon suami yang perhatian tuh..

+6287766554xxx (Berliana)
Cieee… adek gue dah tanggung jawab sama calon istri

Apaan sih loh kak.

Setelah membalas dan menjelaskan apa yang ia ketahui. Bagas segera membereskan barang-barang yang akan ia gunakan untuk mengajar. Saat ini adalah jadwal mengajar di kelas XI IPA 2 yakni di kelas Keysha. Bagas akan mencari tau kepada teman-temannya siapa tau dia akan mendapatkan informasi mengenai Keysha. Meski sebelumnya Kendy telah mengatakan bahwa sahabat juga tidak mengetahui kabar calon istrinya.

Sebelum ia meninggalkan ruangannya. Ponselnya kembali berbunyi menandakan panggilan suara masuk.

My Friend calling……

Bagas segera mengangkat panggilan masuk itu.

Hallo bro? gimana kabar lo…

Salam dulu kali cel?

Kwkwkw… Assalamu’alaikum maaf lupa salamnya. Oh ya gimana kabar lo?

Wa’alaikummussalam. Alhamdulillah baik bro, lo gak mau balik kesini?

Ada sih niatan tapi belum tau, mungkin bulan depan balik ke Indonesia. Soalnya gue juga mau nemuin seseorang sih.

Siapa bro?

Kalau gue dah disana aja gue akan jelasin semuanya.

Udah dulu yah cel, skarang gue harus masuk kelas dah waktunya gue ngajar.

Oke selamat bekerja. Aku juga akan pergi ke suatu tempat. Bye…

Setelah Bagas dan sahabatnya itu memutuskan untuk mengakhiri panggilannya. Bagas segera menuju ke ruang kelas Keysha dan kedua sahabatnya.


My Husband is My Teacher and CEO part 3





Ketiga anaknya telah berlalu meninggalkan mereka, namun kedua orang tua ini masih tetap bermanja ria. Anggara yang kembali memeluk istrinya ketika Michelle kembali berkutat dengan masakannya. Lima menit Michelle mencoba mendiamkan aksi suaminya yang masih setia menghirup aroma tubuhnya.
“Mas, lepaskan pelukanmu. Aku gak mau anak-anak kembali melihat kita seperti ini.”
“Gak apa-apa.” Jawab Anggara sambil memejamkan matanya menikmati aroma tubuh istrinya. Michelle diam membiarkan suaminya, toh pasti suaminya itu akan menyudahi aksinya bila anak-anak mereka telah selesai berganti pakaian. Hingga terdengar langkah kaki yang mulai mendekati mereka. Anggara langsung buru-buru melepaskan pelukannya dan terlihat gugup.
“Tuan kenapa gugup seperti itu?” tegur bi Surti yang baru kembali dari mengambil jemuran. Ternyata langkah kaki itu bukan dari ketika anaknya, melainkan dari pembantunya. Michelle menahan tawanya melihat suaminya yang kepergok bemesraan.
“Kenapa senyum-senyum?” tanya Anggara gemas melihat istrinya menertawainya. Michelle semakin mengeraskan tawanya melihat suaminya yang geram terhadapnya.
30 menit berlalu ketiga bersudara itu tengah sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Keysha sibuk dengan adonan kue keringnya. Sedangkan kedua kakanya sibuk membereskan ruang keluarga dan membersihkan halaman belakang rumahnya. Meski ketiganya merupakan anak keluarga yang berada, namun tak ada kata malas jika mereka sudah berkutat dengan kesibukan mereka. Jijik dengan hal-hal kotor itu hanya bualan semata, dan pada kenyataannya sekarang mereka sudah bermanja ria dengan keringat yang membasahi tubuhnya.
“Kak, lo belum pernah ketemu sama sahabat ayah?” tanya Kendy di sela-sela membersihkan halaman belakang dengan Kyan. Kyan menggelengkan kepalanya tanda memang tidak tau tentang sahabat ayahnya yang akan berkunjung kerumahnya. “Kirain lo tau kak.” Lagi-lagi Kyan menggelengkan kepalanya.
Di dapur Keysha sudah berhasil membuat 1 toples penuh dengan kue kering, dan tinggal 2 toples lagi yang masih belum terisi. “Bunda, sahabat papa nanti itu yang kesini berapa orang?” tanya Keysha kepada bundanya.
“4 orang sayang, om Syarief, tante Prilly sama kedua anaknya, laki-laki dan perempuan.” Michelle menjelaskan kepada Keysha.
“Anak om Syarief sama tante Prilly itu seumuran gak bun sama aku atau seumuran sama kakak?”
“Anak om Syarief sama tante Prilly gak ada yang seumuran sama kamu sayang, anak mereka seumuran dengan kakak kamu Kyan.”
“Yah, jadi udah tua doang ma?” kecewa yang ditunjukkan Keysha. “Awwsss…..” hingga Keysha meringis kesakitan akibat pukulan sendok yang diberikan oleh Kyan kepadanya. Setelah membersihkan halaman belakang, Kyan dan Kendy memang langsung menuju ke daerah kekuasaan Bunda dan adik mereka. Bahkan Kyan datang ketika Keysha mengobrol dengan bundanya.
“Sakit kak Kyan… kenapa kakak mukul kepalaku? Untung aja gak bocor.” Protes Keysha terhadap Kyan yang dengan seenaknya memukul kepalanya.
“Tuh mulut dijaga dek, ngatain orang tua lagi.” Jawab Kyan. Kendy lebih memilih duduk di pantry sambil meminum air dan menyaksikan berdebatan antara Keysha dan Kyan.
“Aku gak ngatain kakak kog, aku kand cuma bilang kenyataan kalo anak dari om Syarief dan tante Prilly yang seumuran kakak itu tua. Wlekkkk….” Ledek Keysha.
“Brarti kamu ngatain kakak juga dek, kalo mreka seumuran sama kakak yah pasti usianya sama kayak kakak dek… ngerti gak sih kamu.” Geram Kyan terhadap adik perempuannya ini. Michelle hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan dua anaknya yang sedang berdebat.
Dilain tempat. Syarief dan Prilly sibuk untuk berangkat ke bandara. Sebab pesawat akan take off pukul 16.00 WIB. Mereka berangkat berdua dari Bandung menuju ke Surabaya. Kedua anaknya selama 1 bulan terakhir ini tidak tinggal bersama mereka. Bagas memang sekarang sudah berada di Surabaya, sedangkan Berliana tengah menempuh pendidikan spesialis jantungnya di Jerman. Sehingga ia sekarang berada di Jerman dan selama tiga hari kedepan ia mendapatkan ijin untuk pulang ke Indonesia. Dan itu dimanfaatkan untuk mengikuti ajakan orang tuanya berkunjung ke rumah sahabat mereka.
Berliana dan Bagas merupakan saudara kembar tak identik. Setelah Bagas dilahirkan, selang beberapa menit Berliana lahir. Berliana lebih memilih dunia kedokteran daripada bisnis seperti papanya, dan Bagas lebih nyaman menjadi seorang guru. Namun tak menolak jika ia sudah diberikan tanggung jawab untuk mengelola perusahaan.
To: My Son
Papa bentar lagi sampai di Surabaya. Jadi papa harap kamu sudah ada di rumahmu sebelum kami sampai.

Bagas Pov.
Aku tengah memeriksan hasil ulangan matematika. Aku sungguh tak percaya bahwa kelas XI IPA 2 nilai yang didapatkan sungguh memuaskan, dan semuanya diatas nilai rata-rata. Terutama ketiga sahabat ini yang memiliki nilai tertinggi. Aku masih mengamati hasil ulangan Keysha, Keysha mengerjakan ulangan yang aku berikan dengan waktu yang terbilang singkat. Cara yang digunakannya pun berbeda dengan yang pernah diajarkan oleh guru sebelumnya. Bahkan ia bisa mengetahui cara cepat dari soal-soal yang telah aku berikan. Hingga lamunanku buyar akibat bunyi notifikasi pesan masuk.
Aku segera meraih ponselku dan mulai mengayunkan jari-jariku untuk membuka aplikasi whatsapp. “My Dad” nama itu yang tertera di pesan yang baru saja kuterima.
Papa bentar lagi sampai di Surabaya. Jadi papa harap kamu sudah ada di rumahmu sebelum kami sampai.
“Papa ke Surabaya? Ngapain mereka kesini, kog gak bilang-bilang dulu.” Aku mulai bertanya-tanya mengapa kedua orang tuaku datang ke Surabaya tanpa memberitahuku terlebih dahulu. Aku langsung mengirimkan pesan balasan kepada papa.
Iya pa, ini Bagas masih di sekolah dan bentar lagi akan pulang. Papa ke Surabaya ngapain? Kog gak bilang-bilang sama Bagas? (send)
Setelah mengirimkan balasan kepada papaku tercinta. Aku mulai membereskan kertas-kertas yang berserakan di meja kerjaku. Lalu aku keluar meninggalkan sekolah dan menuju rumahku.
Yah,, papa membelikanku sebuah rumah untuk aku tempati di kota ini. Sebenarnya tinggal di sebuah apartement pun bisa. Tapi, perintah papa tak bisa aku langgar.
Gue udah di rumah lo.
Aku menajamkan penglihatanku di ponsel yang kini aku genggam. Kakakku telah berada di rumahku. Dan aku semakin tak mengerti apa yang tentang terjadi. Dua kejutan datang menghampiriku. Baru beberapa menit yang lalu bahwa kedua orang tuaki datang ke Surabaya. Dan sekarang kakak perempuanku juga sudah di Surabaya.
To: My Sister
Otw.
Hanya satu kata itu yang aku kirimkan sebagai pesan balasan untuk kakakku. Dan aku semakin menambah kecepatan laju mobilku agar segera sampai di rumah.
Bagas end pov.

Bagas memakirkan mobilnya di garasi dan segera beranjak menuju dimana kakaknya berada. Sambil mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal ia menghampiri Berlianan yang tengah duduk di kursi santai yang disediakan di teras rumahnya.
"Kakak hhh... Ka..pan sampai?" tanya Bagas dengan sesekali mengatur nafasnya.
"10 menit yang lalu, lumayan nunggu kamu sampai di rumah."
"Kalian kog pada ke Surabaya sih, papa sama mama juga lagi otw kesini."
"Udah buka dulu pintunya nanti biar papa sama mama aja yang jelasin. Gue mau tidur bentar. Kamar gue yang mana?" tanya Berliana sambil memasuki istana milik adiknya. Bagas menunjukkan letak kamar milik kakaknya.
"Sebenarnya ini ada apa sih? Kenapa aku jadi bingung?" benak Bagas berbicara. Bagas menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan mulai menuju kamarnya untuk membersihkan dirinya.
Suara adzan maghrib berkumandang dengan merdunya memanggil umat untuk melaksanakan kewajibannya. Keysha menyudahi aksinya di dapur dan segera menuju ke kamarnya untuk melaksanakn sholat maghrib. Namun sebelum ia menginjakkan kakiknya ke anak tangga suara ayahnya menghentikan langkahnya. “Kita sholat berjamaah yah, jadi kalian ambil air wudhu dan alat sholat, kemudian menuju ke mushola.” Perintah Anggara kepada seluruh anggota keluarganya. Ketiga remaja itu mengangguk patuh dengan perintah ayahnya.
Lima menit masing-masing dari mereka telah mendapatkan wudhu dan alat sholatnya, kemudian segera menuju ke mushola sesuai perintah Anggara. Anggara mengambil alih untuk menjadi imam, sedangkan Kyan mengumandangkan iqomah. Mereka melakukan sholat dengan khusyuk dan setelah salam, Kyan yang diikuti oleh kedua adiknya mencium punggung tangan kedua orang tuanya. Anggara dan Michelle tersenyum bangga melihat tingkah ketiga bersaudara ini.
Terima kasih ya Allah, engkau memberikan putra dan putri yang luar biasa kepadaku.” Suara lirih Michelle dalam doanya. Berbeda dengan Anggara, “Alhamdulillah, Engkau telah memberikan kebahagiaan dan kesempatan bagiku untuk merawat dan membesarkan ketiga buah hatiku. Dan Engkau juga telah mengirimkan bidadari surgaku untuk menemaniku merawat ketiga anak kami. Aku mohon ya Allah, berikanlah yang terbaik bagi keluarga hamba, dan selalu limpahkanlah kebagaiaan kepada kami.”
“Aku mencintai keluargaku ya Allah, selalu jaga pelindung-pelindungku.” Doa Keysha seusai sholatnya.
Satu yang aku pinta ya Allah, tetapkanlah kebahagian ini kepada orang-orang yang hamba sayang.” Ucap lirih Kyan. Dan Kendy berdoa, “Aku bahagia ya Allah, akhirnya aku bisa berkumpul kembali dengan keluargaku. Aku memohon kepadaMu selalu sayangilah kami.” Mereka berlima sama-sama menangkupkan kedua tangannya ke wajahnya seraya berkata “Aminn….”
“Ayah bunda, Keysha rindu suasana seperti ini.” Ucap Keysha setelah berdoa kepada Allah. Keempat orang yang lainnya memusatkan pandangannya kepada Keysha. “Kita semakin disibukkan dengan urusan masing-masing, Ayah yang pulang kerja lebih dari maghrib. Bahkan Aku atapun kak Kyan serta kak Kendy juga disibukkan dengan urusan masing-masing. Aku ingin kita setiap maghrib bisa sholat berjamaah.”
“Bunda, juga ingin kita selalu berjamaah seperti ini.” Michelle menambahi perkataan putrinya, karena ia juga merasakan hal yang sama.
“Jadi, di hari berikutnya ayah akan pulang lebih awal agar kita bisa selalu sholat berjamaah bersama.” Jawab Anggara yang langsung diangguki oleh istri dan ketiga anaknya. Anggara merentangkan tangannya menyambut pelukan hangat dari keluarga tercinta. Michelle langsung menubruk dada bidang suaminya, dan diikuti oleh ketiga putra dan putri mereka.
Bi Surti yang sedang melewati mushola tak sengaja melihat kehangatan keluarga majikannya. Hingga tanpa sadar air mata terharu membasahi pipinya. “Bibi ikut senang melihat kebahagiaan keluarga ini, semoga Allah selalu memberikan yang terbaik untu Tuan, Nyonya, den Kyan, den Kendy dan non Keysha.”
“Udah ah, istri dan anak-anak ayah gak boleh nangis lagi. Lebih baik kalian bersaip-siap jam 8 nanti keluarga sahabat ayah akan sampai disini. Karena tadi Syarief bilang bahwa ia baru sampai di Surabaya dan sekarang sedang menuju ke rumah putranya.” Kata Anggara.
“Sahabat ayah kand punya rumah disini? Kenapa harus nginap di rumah kita yah?” tanya Keysha.
“Mereka memang memiliki rumah disini, namun itu rumah milik putranya. Dan berhubung kami juga sudah sangat jarang bertemu, maka ayah menawarkan kepada om Syarief dan keluarganya agar tinggal di rumah ini untuk beberapa hari. Jadi rumah milik anaknya akan dikosongkan sementara. Dan ayah harap kalian bisa bersahabat dengan anak sahabat ayah. Mengerti.” Jawab Anggara. Keysha dan kedua kakaknya mengangguk paham.
“Kalau gitu kita pamit ke kamar dulu yah bun.” Ucap Kendy yang beranjak dari duduknya dan diikuti kedua saudaranya.
Dirumah Bagas.
Ting Nong
Ting Nong
Ting Nong, suara bel rumah Bagas berbunyi berkali-kali menandakan ada sesorang yang mengunjungi rumahnya. Dengan berlari kecil Bagas membukakan pintu utama rumahnya, dan betapa kagetnya ketika ia melihat sepasang suami istri yang mendatangi rumahnya.
“Papa, Mama,-“ Bagas langsung mencium punggung tangan kedua orang tuanya. Disisi lain, Berlianan yang mendengar pekikan Bagas yang memanggil tamu mereka dengan sebutan papa dan mama langsung berlari menuju sumber suara.
“Papa, Mama,-“ pekik Berliana dan langsung memeluk kedua orang tuanya.
“Kamu ternyata sudah disini sayang.” Ucap Prilly sambil menciumi seluruh permukaan wajah putrinya.
“Kapan kamu sampai nak?” tanya Ali dengan tangan yang mengelus rambut milik putrinya.
“Sebelum maghrib pa, ma….. oh ya yukk masuk dulu.” Ajak Berliana sambil menarik kedua orang tuanya untuk memasuki istana milik adiknya. Bagas yang merasa dicuekin oleh ketiga orang itu hanya bisa menghela nafas kasar.
“Gue yang punya rumah, kog gue yang dicuekin. Ada apa sih ini sebanarnya?” tanya lirih Bagas kepada dirinya sendiri. Bagas menutup pintu utama rumahnya dan langsung menyusul kedua orang tuanya serta kakaknya yang sedang duduk di ruang tamu. “Papa sama Mama ada apa kog ke Surabaya gak ngasih kabar dulu?”
“Kamu gak suka kalo papa datang kesini? Apa jangan-jangan kamu menyembunyikan sesuatu dari kami?” selidik Ali kepada putra semata wayangnya.
“Bagas gak nyembunyiin apa-apa kog pa, papa jangan suudzon dulu sama anak sendiri.” Jawab Bagas.
“Papa dan mama datang ke Surabaya dan meminta kakakmu untuk ikut juga karena kami akan mengunjungi rumah milik teman papa. Dan papa harap kamu juga ikut Bagas. Serta rumah ini akan dikosongkan selama 3 hari, sebab kita akan menginap di rumah teman papa.”
“Kenapa kita harus menginap disana pa? tidur dirumah ini kan juga cukup untuk kita semua?” tanya Bagas.
“Itu karena teman papa menawarkan kita semua menginap di rumahnya, lagi pula papa juga sudah lama tidak bertemu dengannya. Kalian nanti juga akan bisa berteman dengan anak teman papa.” Jelas Ali kepada kedua anaknya.
“Kita mau kesana jam berapa Al?” tanya Prilly yang duduk diantara kedua anaknya.
“Jam 8 malam, jadi sekarang siapkan baju-baju kamu Bagas untuk menginap di rumah teman papa. Dan bawa juga peralatan untuk mengajarmu.” Perintah Ali untuk Bagas. Bagas mengangguk setuju dan berjalan menuju kamarnya untuk mempersiapkan pakaian dan barangnya yang akan dibawa ke rumah milik teman papanya.
Jarum jam menunjukkan pukul setengah 8 tepat. Keluarga Ali sudah bersiap-siap menuju rumah Anggara. “Pa, Bagas telat kesananya ya? Soalnya mau beli sesuatu untuk ngajar besok. Jadi kalian berangkat saja dulu, nanti Bagas menyusul.” Ucap Bagas ketika keluarga itu keluar dari rumah milik Bagas.
“Memangnya kamu tau sayang dimana rumah teman papa?” tanya Prilly yang sudah ingin masuk kedalam mobil milik Ali. Ali memberikan sebuah mobil untuk Bagas, namun Bagas juga membeli mobil sendiri. Jadi mobil milik Ali hanya digunakan Bagas secara bergantian dengan mobil miliknya sendiri.
“Papa akan pesankan alamat teman papa di ponsel kamu nanti, dan hati-hati segera menuju ke rumah teman papa. Oh ya, sekalian belikan boneka bear karena tadi papa gak sempat untuk membelikannya. Bonakanya bungkus yang rapi itu untuk hadiah anak teman papa.” Pesan Ali yang sudah duduk manis di kemudi mobilnya.
“Iya pa, siap.” Jawab Bagas yang mulai melajukan mobil miliknya.
Perjalanan dari rumah milik Bagas ke rumah Anggara membutuhkan waktu 30 menit. Di dalam mobil Ali. Berliana duduk di jok mobil belakang. Ia memainkan ponselnya untuk beselayar mencari informasi tentang dunia kedokterannya. Hingga suara Prilly membuyarkan fokusnya, “Gimana perjalanan kamu sayang, susah gak nyari alamat rumah adik kamu?”
“Gak kog ma, tapi pas aku nyampe di rumahnya. Bagas posisinya masih di jalan dari sekolah tempat mengajarnya.” Jawab Berliana. “Oh ya pa, anak teman papa itu berapa?” tanya Berliana karena ia ingin tau seperti apa anak dari teman orang tuanya.
“Anak om Anggara itu 3 sayang, dua laki-laki dan satu perempuan. Anak yang pertama seumuran dengan kamu kog.” Jawab Ali yang terfokus melihat jalanan dan sesekali melihat kaca belakang untuk melihat putri kesayangannya.
Tiga puluh menit berlalu, akhirnya keluarga Ali sampai di rumah milik Anggara. Ali memasukkan mobilnya di garasi milik Anggara, sedangkan Pilly dan Berliana mengeluarkan barang-barang bawaannya.

Keysha Pov.
Brmmm… Brmmmm… Brmmmm….
Suara mobil memasuki halaman rumahku. Aku melihat ada tiga orang yang keluar dari mobil itu dua orang yang seumuran dengan Ayah dan satu gadis perempuan yang seumuran dengan kak Kyan. Apa itu anak yang dimaksud bunda. Aku segera merapikan pakaian yang aku pakai, dan menyambar ponselku sebelum aku keluar dari kamar. Samar-samar aku dengar bel rumahku berbunyi tanda bahwa ada seseorang yang bertamu. Aku melihat bi Surti yang buru-buru membukakan pintu utama rumahku.
Aku menuruni anak tangga secara perlahan. Hingga rangkulan dua tangan dipundakku mengagetkanku. Kak Kyan dan kak Kendy berjalanan beriringan menuju ruang tamu dimana tamu dari keluargaku tengah duduk disana. Kudengar secara perlahan perbincangan antara keempat sahabat itu, dan gadis cantik itu duduk dengan manisnya sambil mendengarkan obrolan yang diperbincangkan kedua orangtuanya dengan sahabat mereka.
“Nah itu anak kami Pril,” kudengar suara bunda ketika kami telah menginjakkan kaki setelah anak tangga terakhir. Kami bertiga menuju bunda yang memanggil kami. Aku melemparkan senyum begitu pula dengan kedua kakakku.
“Ali kenalkan ini Kyan anak tertuaku, dan ini Kendy putra keduaku, serta yang cantik ini Keysha putrid bungsuku.” Jelas Ayah kepada temannya yang kutau bernama om Ali itu. Om Ali menyambut kami, dan aku beserta kakak-kakakku langsung meraih tangannya untuk mencium punggung tangan om Ali. Om Ali tersenyum melihat tingkah kami. Dan tidak berhenti di om Ali, aku langsung menuju tante yang seumuran dengan bunda. Kucium punggung tangannya seperti yang kulakukan terhadap om Ali.
“Oh ya Anggara kenalkan juga ini anakku namanya Berliana, untuk Bagas ia masih sibuk membeli barang untuk keperluannya besok.” Om Ali memperkenalkan putrinya. Tunggu, Bagas? Nama itu mengapa aku tak asing dengan nama Bagas itu?
“Haduh ini mana nih yang cocok buat anak teman papa.” Bagas frustasi memilih boneka bear pesanan papanya. Ia berkali-kali mengucap wajahnya kasar, sebab ia tak tau mana yang cocok untuk anak teman papanya itu. Beberapa macam boneka bear ada dihadapannya, mulai dari yang kecil hingga yang besar, dari yang cocok untuk anak-anak hingga untuk remaja. Pasalnya Bagas tak mengetahui seusia berapa anak teman papanya. Jika ia mengirimkan pesan ke papanya itu akan semakin terlambat ia sampai ke tempat tujuannya.
“Pak Bagas…..” teriakan memanggil nama Bagas datang dari dua gadis yang berjalan menghampirinya. Mereka adalah Tika dan Dea, masih ingatkan kalau mereka adalah sahabat dari Keysha.
“Kalian… Tika sama Dea kand?” tanya Bagas yang mencoba mengingat-ingat nama dari dua gadis yang memanggilnya. Tika dan Dea mengangguk bahwa Bagas tak salah dalam menebak.
“Bapak kenapa? Kog sepertinya sedang kebingungan?” tanya Tika sebab sedari tadi ia memperhatikan gerak-gerik Bagas yang sepertinya sedang mengalami kesusahan.
“Iya nih… saya lagi bingung memilih boneka ini.” Jawab Bagas sambil berkali-kali gonta ganti memengang boneka satu dengan boneka yang lainnya.
“Memangnya bapak mau membeli boneka untuk anak kecil apa sudah remaja pak?” Tanya Dea yang ikut sibuk melihat-lihat beberapa boneka dihadapannya. Bagas mengidikkan bahu keatas dengan menggelengkan kepala.
“Yang ini aja pak, ini cocok kog untuk usia anak-anak ataupun remaja.” Usul Tika dengan menyodorkan boneka bear bewarna coklat muda. Dea mengangguk menyetujui usulan dari Tika. Bagas menerima usulan Tika dan meraih boneka yang diberikan kepadanya.
“Kalau gitu saya bayar dulu yah.. terima kasih sudah membantu saya.” Tika dan Dea mengangguk. Bagas melenggang pergi dari hadapan kedua muridnya dan menuju ke kasir untuk membayar boneka yang dibelinya.
“Baru kali ini aku melihat pak Bagas kebingungan cari boneka loh, biasanya ia dingin serius apa lagi jarang kita melihat pak Bagas menampilkan senyum kelegaan karena berhasil mendapatkan apa yang ingin dibelinya.” Dea mengoceh panjang lebar, hingga tanpa sadar Tika sudah berjalan jauh dari tempatnya. “Tik,, gue kog ditinggalin sih?” teriak Dea setelah sadar bahwa Tika sudah tak ada dihadapannya. Dea berlari mengejar Tika.
To: Keysha
Key,, gue sama Dea main ke rumah lo yah…..  
Pesan Tika yang dikirimkan ke Keysha, ia berencana untuk main di rumah Keysha dan mengajak Dea. Satu menit pesan balasan itu sudah di terimanya.
From: Keysha
Jangan sekarang yah Tik… soalnya di rumah ada temannya ayah dan bunda.. jadi gak enak kalau aku ninggalin mereka. Besok aja deh gue main ke rumah lo sepulang sekolah… jangan marah yah… J
Kecewa yang ditampilkan Tika ketika membaca balasan pesan dari Keysha, namun ia tetap membalas pesan sahabatnya itu.
To: Keysha
Oke deh…
“Kenapa muka lo kog kelihatan kecewa Tik?” tanya Dea yang baru bisa menyamakan langkah kakinya dengan kaki sahabatnya.
“Gue kand mau main ke rumahnya Keysha. Eh tapi Key gak bisa katanya di rumahnya ada tamun teman bonyoknya.” Jawab Tika
“Ya udah sih, main kerumahku aja yukk…. Besok aja kita main sama Keysha.” Dea mengajak Tika keluar dari mall, dan menuju ke rumahnya.

Next Keysha Pov.
“Ayah, Bunda, Key… pamit ke kamar dulu yah,,” Aku ijin ke kamarku sebab aku sudah tak tahan dengan panggilan alam yang sedari tadi meminta untuk dikeluarkan. Belum mendapatkan anggukan dari kedua orang tuaku, aku langsung lari meninggalkan tempat dudukku menuju ke kamarku dilantai dua rumahku.
Aku sempat menoleh kebelakang dan melihat tampang cengo mereka menyaksikan aku berlari dengan memegang perut serta pantatku mencoba menahan agar aku tidak buang angin dihadapan mereka. Bila itu terjadi bisa dipastikan aku akan malu dan mendapatkan ledekan dari kedua kakakku, lagi pula aku juga gak mau sampai ayah dan bunda malu gara-gara aku. Wah, bisa dicoret dari daftar keluarga nih.. hahaha… tapi yah gak separah itu juga kali, mau makan apa aku tanpa uang dari ayahku.
Sesampai di kamarku aku langsung melepaskan sepatu flatku dan melemparnya ke segala arah sebab aku sudah gak kuat lagi. Aku langsung mengicir masuk ke kamar mandi dan menguncinya semoga saja tidak ada yang mengganggu ritualku ini.
End Keysha Pov.

Bagas Pov.
Akhirnya aku sudah mendapatkan boneka yang diminta oleh papa. Sekarang aku tengah berada di halaman rumah milik teman papaku. Besar dan mewah itu yang terlintas di benakku ketika memasuki halaman rumah ini. Aku melangkahkan kakiku menuju ke pintu utama rumah ini, namun belum aku sampai di depannya sudah ada benda yang terjatuh menimpuk kepalaku.
Awwwsss…. Aku menahan rasa ngilu di kepalaku, sebuah sepatu flat dengan manisnya telah memberikan sebuah sapaan selamat datang di rumah ini. Entah sepatu itu datang dari mana, hingga bisa-bisanya menghampiri kepalaku yang isinya otak cerdas ini, apa pemilik sepatu ini bisa mengganti bila aku mengalami kobocoran. Huu.. dasar siapa sih pemiliknya. Aku menolehkan kepalaku mencari keberadaan sosok orang lain, namun usahaku nihil dan tidak ada seorangpun yang ada di tempat ini kecuali aku.
Aku memungut sepatu itu dan melanjutkan langkahku menuju pintu utama rumah ini. Tanganku mengepal dan kuayunkan untuk mengetuk pintu rumah ini yang kuyakini berasal dari kayu jati yang kokoh. Sambil aku mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum….” Beberapa menit kemudian kumendengar seseorang membukakan pintu rumah ini.
“Aden cari siapa?” tanya ibu-ibu tua yang seusia dengan pembantu rumahku yang ada di Bandung.
“Saya Bagas bi…bu….” Aku menggaruk tengkukku karena kebingungan memanggil wanita ini dengan sebutan bibi atau ibu.
“Panggil aja bi Surti den.” Jawab Bi Surti yang mengetahui kebingunganku, dan aku mengangguk paham.
“Saya Bagas bi, anak dari teman yang punya rumah ini.”
“Oh kalau mari masuk den, tuan dan nyonya ada di dalam sedang mengobrol dengan tamunya. Mana den saya bawakan barang milik aden.” Aku tersenyum menolak tawaran bi Surti yang mau membantuku membawakan barang-barangku. Kemudian aku mengikuti langkah kakinya menuju dimana kedua orang tuaku berada. “Tuan, Nyonya ini ada den Bagas katanya anak temannya tuan.” Bi Surti memberitahukan kedatanganku di tengah-tengah obrolan mereka. Aku menyunggingkan senyumku ketika fokus mereka mengarah kepadaku.
“Loh Bagas?” Ini suara laki-laki yang tadi pagi telah melakukan meeting denganku. Kyan duduk bersebelahan dengan laki-laki yang sedang sibuk memainkan ponselnya. Aku tersenyum mendengar sapaan dari Kyan.
“Oh ya Anggara, kenalkan ini putraku namanya Bagas.” Papa mengenalkanku di hadapan keluarga temannya.
“Oh ini yang namanya nak Bagas, dan ini kedua anak om.” Jawab Anggara sambil mengenalkan dua laki-laki yang duduk di sebelah aku berdiri. Aku menghampiri mereka dengan mengulurkan tanganku. Aku mencium punggung tangan milik pria seumuran dengan papa, dan milik wanita yang seumuran dengan mama. Kemudian aku menghampiri dua laki-laki yakni Kyan dan seorang lagi yang masih belum menyadari kedatanganku sebab ia terus terfokus dengan ponselnya.
“Dek,-“ tegur Kyan memanggil laki-laki di sebelahnya. Sepertinya aku kenal dengan postur tubuh laki-laki ini. Tapi dimana? Aku mencoba mengingatnya. Hingga ada yang menegurku.
“Pak Bagas?” panggil laki-laki yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya. Terlihat kerutan di dahinya yang menandakan kebingungan. Bukan hanya dia, aku juga bingung kehadirannya ada di rumah ini. Jika disini ada Kendy… jangan-jangan? Rumah ini milik………..